Senin, 14 November 2011

Tesis

BAB I
PENDAHULUAN

A.   Latar Belakang Masalah

Prestasi belajar siswa merupakan hasil yang ingin dicapai dalam proses pendidikan di sekolah. Prestasi belajar siswa memberikan umpan balik bagi siswa mengenai sejauh mana keberhasilannya dalam belajar. Prestasi belajar juga memberikan umpan balik bagi guru mengenai sejauh mana keberhasilannya dalam mengajar. Bagi orangtua prestasi belajar juga memberikan umpan balik yang menunjukkan sejauh mana keberhasilannya menyekolahkan anaknya. Jadi prestasi belajar siswa penting bagi siswa itu sendiri, guru dan orangtua.
Karena prestasi belajar siswa menunjukkan sejauh mana keberhasilan guru dalam mengajar, maka guru berkepentingan untuk mengarahkan proses pembelajaran sehingga menghasilkan prestasi belajar yang tinggi dikalangan siswa. Untuk mendapatkan pengajaran yang berhasil, kedisiplinan menjadi penting. Kedisiplinan diperlukan agar pembelajaran terlaksana secara teratur tanpa ada gangguan yang menghalangi tercapainya prestasi belajar yang tinggi di kalangan siswa.
Penegakan kedisiplinan melalui pembelajaran yang teratur merupakan salah satu tugas pokok guru dalam mengelola kelas. Bisa dikatakan bahwa kedisiplinan pembelajaran tergantung kepada kemampuan guru itu sendiri dalam mengelola keteraturan kelas. Di sinilah masalahnya mulai muncul. Ada guru yang terlampau ketat menerapkan kedisiplinan yang mengakibatkan terbentuknya suasana mencekam yang menghambat partisipasi belajar siswa, di mana partisipasi itu sendiri kadang-kadang memang “gaduh”. Sebaliknya ada guru yang terlampau longgar menerapkan kedisiplinan yang mengakibatkan suasana kelas tidak tertib sehingga menghasilkan partisipasi belajar yang tidak sungguh-sungguh dari kalangan siswa.
Karena tidak maksimalnya partisipasi belajar siswa dalam kedua kasus di atas, maka kecil kemungkinan dihasilkannya prestasi belajar yang tinggi dari proses pembelajaran dengan kedisiplinan yang terlampau ketat maupun yang terlampau longgar. Yang lebih berpeluang menghasilkan prestasi belajar yang tinggi tentulah kedisiplinan yang wajar. Dalam kedisiplinan yang wajar, guru kadang-kadang harus ketat agar partisipasi terlaksana dengan sungguh-sungguh tapi kadang-kadang harus longgar agar partsisipasi itu mengalirkan kreatifitas yang mendorong pencapaian prestasi belajar yang tinggi di kalangan siswa.
Prestasi belajar siswa penting bagi orangtua karena ia memberi umpan balik mengenai keberhasilannya menyekolahkan anak. Semua orangtua tentu berharap agar anaknya memperoleh prestasi belajar yang bagus di sekolah. Namun setiap orangtua menunjukkan perhatian yang berbeda-beda terhadap pembelajaran anaknya. Ada orangtua yang terlalu mempercayakan proses pembelajaran anaknya kepada guru sehingga tinggi rendah prestasi anaknya dinisbatkan kepada guru. Jika anaknya memperoleh prestasi belajar yang bagus guru dipandang pandai mendidik, tapi jika sebaliknya yang terjadi guru dipandang tidak pandai mendidik. Ia tidak mempedulikan peran yang dimainkannya agar anaknya berhasil mencapai prestasi belajar yang diinginkan.
Setiap anak tentu memerlukan perhatian yang berbeda-beda dari orangtuanya menyangkut pembelajarannya di sekolah. Perhatian umum bisa diberikan dengan menyediakan segala kebutuhan belajar. Tapi kadangkala perhatian umum semata-mata tidak mencukupi. Ada anak yang memerlukan bimbingan tambahan dari orangtuanya untuk memahami tugas-tugas belajar, yaitu anak-anak yang lambat belajar. Terhadap anak-anak yang lambat belajar ini orangtua semestinya berupaya memahami kesulitan belajar anak dan memberikan bantuan yang diperlukan untuk mengatasi kesulitan tersebut.
Untuk anak-anak yang cepat belajar sekalipun perhatian umum saja juga tidak mencukupi, karena biasanya mereka cepat bosan sehingga orangtua perlu memberikan perhatian khusus agar anaknya selalu bergairah belajar. Bisa saja terjadi anak yang cepat belajar justru merosot prestasi belajarnya karena ia merasa orangtuanya kurang mempedulikan kebosanan yang dirasakannya dalam belajar. Jika orangtua tidak pandai mengatasi masalah ini lambat laun sang anak bisa memberontak sehingga proses pendidikannya menjadi terganggu.
Uraian di atas ingin menyatakan bahwa kedisiplinan guru dan perhatian orangtua diperlukan agar anak memperoleh prestasi belajar yang diinginkan. Namun kedisiplinan guru maupun perhatian orangtua diwujudkan secara berbeda-beda sehingga memberi dampak yang berbeda-beda pula terhadap prestasi belajar siswa. Pola-pola kedisiplinan yang diterapkan guru dalam mengelola pembelajaran siswa, serta pola-pola perhatian yang diberikan orangtua terhadap pembelajaran anaknya, beserta dampak yang ditimbulkannya terhadap prestasi belajar siswa, penting diketahui secara empirik agar bisa dikontrol pada masa mendatang.
Mengingat pentingnya kedisiplinan guru dan perhatian orangtua terhadap prestasi belajar siswa, dan masih remang-remangnya pengetahuan empiris mengenai masalah tersebut, maka kami tertarik untuk mengkaji “Hubungan Kedisiplinan Guru dan Perhatian Orangtua dengan Prestasi Belajar Siswa Sekolah Menengah Atas Negeri 83 Jakarta”.

B.   Identifikasi Masalah

Berdasarkan latar belakang masalah di atas, bisa diidentifikasi beberapa masalah yang berkaitan dengan prestasi belajar siswa sebagai berikut:
1.    Bagaimanakah gambaran tentang prestasi belajar siswa Sekolah Menengah Atas Negeri 83 Jakarta?
2.    Upaya-upaya apa saja yang perlu dilakukan untuk meningkatkan prestasi belajar siswa?
3.    Faktor-faktor apa yang mempengaruhi prestasi belajar siswa?
4.    Apakah prestasi belajar siswa berhubungan dengan kedisiplinan guru?
5.    Kedisiplinan yang bagaimanakah yang semestinya diterapkan guru dalam proses pembelajaran untuk meningkatkan prestasi belajar siswa?
6.    Bagaimanakah gambaran kedisiplinan yang diterapkan guru dalam proses pembelajaran di kelas?
7.    Upaya-upaya apa yang perlu dilakukan untuk meningkatkan kedisiplinan dalam proses pembelajaran yang yang berhasil?
8.    Apakah prestasi belajar siswa berkaitan dengan perhatian orangtua?
9.    Perhatian yang bagaimanakah yang perlu diberikan orangtua agar pembelajaran anaknya menghasilkan prestasi belajar yang diinginkan?
10. Bagaimanakah gambaran nyata perhatian orangtua terhadap pembelajaran anaknya?
11. Upaya-upaya apakah yang bisa dilakukan untuk meningkatkan perhatian orangtua terhadap pendidikan anaknya?
12. Apakah prestasi belajar siswa berkaitan perpaduan kedisipilinan guru dan perhatian orangtua?
13. Perpaduan kedisiplinan guru dan perhatian orangtua yang bagaimanakah yang bisa meningkatkan prestasi belajar siswa?
14. Bagaimanakah gambaran nyata perpaduan kedisplinan guru dan perhatian orangtua dalam rangka peningkatan prestasi belajar siswa?
15. Upaya-upaya apa saja yang bisa dilakukan untuk memadukan kediplinan guru dan perhatian orangtua dalam rangka peningkatan prestasi belajar siswa?

C.   Pembatasan Masalah

Mungkin masih banyak masalah-masalah lain yang  penting menyangkut prestasi belajar siswa. Namun penelitian ini dibatasi pada korelasi antara kedisiplinan guru dan perhatian orangtua dengan prestasi belajar siswa sebagai berikut:
1.    Korelasi antara kedisiplinan guru dengan prestasi belajar siswa.
2.    Korelasi antara perhatian orangtua dengan prestasi belajar siswa.
3.    Korelasi antara kedisiplinan guru dan perhatian orangtua dengan prestasi belajar siswa.

D.   Perumusan Masalah

Berdasatkan pembatasan masalah tersebut, maka masalah penelitian dirumuskan sebagai berikut:
1.    Apakah terdapat korelasi antara kedisiplinan guru dengan prestasi belajar siswa?
2.    Apakah terdapat korelasi antara perhatian orangtua dengan prestasi belajar siswa?
3.    Apakah terdapat korelasi antara kedisiplinan guru dan perhatian orangtua, secara bersama-sama, dengan prestasi belajar siswa?

E.   Kegunaan Penelitian

Hasil penelitian diharapkan memberikan manfaat sebagai berikut:
1.    Memberi masukan kepada pihak penyelenggara pendidikan, khususnya Sekolah Menengah Atas Negeri 83 Jakarta, mengenai gambaran nyata tentang kedisiplinan guru dan perhatian orangtua serta hubungannya dengan prestasi belajar siswa, sehingga bisa diambil langkah-langkah yang diperlukan untuk meningkatkannya di masa mendatang.
2.    Memberi masukan untuk penelitian selanjutnya tentang masalah kedisiplinan guru dan perhatian orangtua dalam hubungannya dengan prestasi belajar siswa.


 
BAB II
DEKSKRIPSI TEORI, KERANGKA BERPIKIR, DAN

HIPOTESIS PENELITIAN


A. Deskripsi Teori

1.   Prestasi Belajar
Menurut Nasution prestasi belajar adalah suatu “perubahan yang terjadi pada individu yang belajar, perubahan tidak hanya mengenai pengetahuan tetapi juga kecakapan, kebiasaan, sikap, pengertian, penguasaan diri, penghargaan dalam diri individu yang belajar. Menurut Hamalik prestasi belajar merupakan “suatu bentuk perubahan atau pertumbuhan dalam diri siswa yang dinyatakan dalam bentuk perilaku baru karena pengalaman dan latihan, berupa pengertian sikap, penghargaan, kecakapan dan sebagainya. Sedangkan menurut Suryabrata prestasi belajar merupakan “aktivitas aktual maupun potensial yang menghasilkan perubahan pada diri seseorang berupa prestasi atau nilai, sikap dan kerampilan.
Pada dasarnya seluruh definisi prestasi belajar di atas menyatakan hal yang sama walaupun redaksinya berbeda-beda, yaitu prestasi belajar ialah perubahan yang terjadi pada diri siswa sebagai hasil dari proses pendidikan dan latihan yang terwujud dalam peningkatan aktivitas pengetahuan, sikap, maupun ketrampilan. Akan tetapi definisi-definisi tersebut belum operasional, karena perubahan yang dimaksud dalam pengetahuan, sikap dan ketrampilan belum terukur. Dimensi pengukuran didapat dari definisi prestasi belajar yang lebih operasional.
Menurut Gagne dalam Gafur prestasi belajar adalah “penguasaan siswa terhadap materi pelajaran yang telah diperoleh dari hasil tes belajar yang dinyatakan dalam bentuk skor. Syah berpendapat bahwa “prestasi belajar merupakan taraf keberhasilan siswa dalam mempelajari materi, dinyatakan dalam skor dari hasil tes sejumlah materi pelajaran dalam bentuk tertentu. Tantowi berpendapat bahwa prestasi belajar adalah tanda atau simbol keberhasilan (achievement) yang telah dicapai usaha belajar; tanda atau simbol itu biasanya dinyatakan dalam bentuk nilai, angka atau juga huruf; tanda itu melambangkan kemampun-kemampun aktual dalam bidang pengetahuan dan keterampilan. Djamarah dan Zein mengemukakan bahwa dalam proses belajar mengajar “prestasi diartikan sebagai tingkat keberhasilan dari seluruh bahan pelajaran yang diberikan atau telah dikuasai 60% oleh siswa.
Berbaga definisi operasional tentang prestasi belajar di atas tampaknya berangkat dari definisi yang diberikan oleh Gagne, bahwa prestasi belajar merupakan penguasaan siswa terhadap materi pelajaran yang dinyatakan dalam bentuk skor yang diperoleh dari hasil tes belajar. Definisi Syah dan Tantowi tidak jauh berbeda dengan defnisi Gagne, dan hanya memberi penjabaran lebih jauh mengenai skor; sedangkan definisi Djamarah dan Zein menambahkan unsur penguasaan minimal 60% terhadap materi pelajaran. Berdasarkan berbagai definisi ini dapatlah disimpulkan bahwa secara operasional prestasi belajar adalah skor atau nilai yang diperoleh siswa dari hasil tes belajar yang menyatakan minimal 60% penguasaan terhadap materi pelajaran.
Dalam definisi di atas perlu dibedakan antara skor dengan nilai. Menurut Arikunto, skor adalah hasil pekerjaan menskor yang diperoleh dengan menjumlahkan angka-angka bagi setiap soal tes yang dijawab benar oleh siswa, sedangkan nilai adalah angka ubahan dari skor dengan menggunakan acuan tertentu, yaitu acuan normal atau acuan standar. Untuk bisa menunjukkan suatu prestasi belajar, skor (mentah) harus diubah menjadi skor berstandar 100. Dengan demikian pemberian nilai prestasi belajar mengacu kepada standar mutlak, yaitu standar 100. Misalnya, dalam suatu tes siswa A memperoleh skor 24, sedangkan skor maksimum yang diharapkan 40, maka A sebenarnya hanya menguasai 24/40 x 100% (atau = 60%) dari tujuan instruksional khusus, maka dalam daftar nilai dituliskan A mendapat nilai 60. Dengan demikian prestasi belajar A nilainya adalah 60, yang menunjukkan tingkat penguasaan 60% terhadap materi pelajaran.
Untuk memperoleh skor atau nilai dari prestasi belajar dilakukan tes. Tes prestasi yang layak diperoleh apabila penyusunannya didasari oleh prinsip-prinsip pengukuran yang berlaku sehingga menjadi sarana yang positif untuk meningkatkan proses belajar mengajar. Menurut Gronlund (2007), sebagaimana dikutip oleh Azwar, suatu tes prestasi belajar yang layak memenuhi prinsip-prinsip sebagai berikut:
Pertama, tes prestasi harus mengukur hasil belajar yang telah dibatasi secara jelas sesuai dengan tujuan instruksional. Ini disebut prinsip pembatasan tujuan ukur, dan merupakan langkah pertama dalam penyusunan tes prestasi belajar. Identifikasi dan pembatasan tujuan ukur bersumber dan mengacu pada tujuan instruksional yang telah digariskan.
Kedua, tes prestasi harus mengukur suatu sampel yang representatif dari hasil belajar dan dari materi yang dicakup oleh program instruksional atau pengajaran. Yang dimaksud dengan sampel hasil belajar dalam hal ini adalah perwujudan soal tes dalam bentuk item-item yang mewakili semua pertanyaan mengenai materi pelajaran yang secara teoritik mungkin ditulis. Untuk dapat mengukur hasil belajar materi pelajaran secara keseluruhan, sample pertanyaan yang dimuat dalam tes harus representatif, yakni menanyakan semua materi yang dicakup suatu program secara proporsional.
Ketiga, tes prestasi harus berisi item-item dengan tipe yang paling cocok guna mengukur hasil belajar yang diinginkan. Hasil belajar yang hendak diukur menentukan tipe perilaku yang diterima sebagai bukti pencapaian tujuan instruksional yang telah ditetapkan. Tes prestasi memiliki berbagai tipe dan format item yang dapat digunakan sesuai dengan tujuan pengukuran. Jika tujuan pengukuran mengungkapkan proses mental dan kompetensi tingkat tinggi guna pemecahan masalah maka dipilih tipe item esai atau pilihan ganda. Jika tujuan ukur mengungkapkan proses pengingatan fakta dan prinsip sederhana maka dipilih tipe item benar salah atau tipe jawaban pendek.
Keempat, tes prestasi harus dirancang sedemikian rupa agar sesuai dengan tujuan penggunaan hasilnya. Berdasarkan prinsip ini, jika tes dimaksudkan untuk penempatan, disusun item yang tidak terlalu tinggi taraf kesukarannya dan tidak terlalu luas cakupannya. Jika dimaksudkan berfungsi sumatif untuk mengukur kemajuan belajar, disusun item yang mencakup bagian-bagian penting tertentu dari keseluruhan materi pelajaran. Tes sumatif mengacu pada kriteria penguasaan materi (criterion-referenced test) harus berisi item-item yang secara komperehensif mengungkap seluruh bagian materi pelajaran dengan tingkat kesukaran rendah, sedangkan tes sumatif yang dimaksudkan untuk melihat posisi relatif siswa dalam kelompoknya (norm-referenced test) berisi item-item dengan taraf kesukaran bervariasi. Jika tes dimaksudkan untuk diagnostik, disusun item dalam jumlah besar dalam setiap kawasan materi pelajaran dengan taraf kesukaran rendah, dan karena tujuannya untuk mengetahui kelemahan siswa fokus perhatian lebih tertuju jawaban siswa terhadap item-item tertentu dan bukan pada skor keseluruhan.
Kelima, reliabilitas tes prestasi harus diusahakan setinggi mungkin dan hasil ukurnya harus ditafsirkan dengan hati-hati. Sejauh mana pengukuran yang dilakukan tes dapat diandalkan dan terpercaya berpengaruh besar terhadap penafsiran hasil pengukuran. Tes yang tidak dapat memberikan hasil yang konsisten (reliable) akan menimbulkan penafsiran yang keliru mengenai aspek yang diungkapnya. Kekeliruan bisa terjadi karena adanya kesalahan pengukuran yang antara lain bersumber dari dalam tes itu sendiri, yang dapat dikurangi antara lain dengan meningkatkan kualitas dan kuantitas item tes tersebut.
Keenam, tes prestasi harus dapat digunakan untuk meningkatkan belajar para anak didik. Manfaat inilah yang lebih penting dari penggunaan hasil tes prestasi belajar daripada sekedar untuk mengisi rapor siswa. Pengaruh positif tes prestasi terhadap peningkatan belajar yang maksimal bisa diharapkan apabila hasil tes prestasi secara akurat dapat mencerminkan pencapaian tujuan instruksional dan bila tes prestasi dapat mengukur sampel hasil belajar dengan layak. Karena tujuan utama pengukuran prestasi belajar, baik formatif maupun sumatif, adalah untuk peningkatan belajar siswa, maka hasilnya harus dikomunikasikan kepada siswa. Apabila siswa dapat mnemandang hasil tes sebagai saran untuk menolong peningkatan belajar mereka, bukan hanya sebagai dasar pemberian angka atau nilai rapor, maka fungsi tes sebagai motivator dan pengarah dalam belajar telah tercapai.
Prestasi belajar seorang murid dilihat dari buku laporan pendidikan (raport) yang diisi setiap semester. Tinggi atau rendahnya dan baik atau buruknya prestasi siswa (peserta didik) tertulis pada buku raport. Gambaran prestasi seseorang peserta didik yang tertulis pada buku raport diisi setelah melalui tes atau ulangan-ulangan baik berupa ulangan harian/tes formatif, tes sumatif, bahkan tugas-tugas lainnya yang terkait dengan pelajaran yang diberikan guru kepada muridnya.
Berdasarkan uraian di atas dapat ditarik kesimpulan bahwa prestasi belajar merupakan tingkat keberhasilan yang dicapai seseorang dalam proses belajar dengan jangka waktu tertentu. Keberhasilan belajar itu berwujud perubahan-perubahan yang terukur dalam pengetahuan (ranah kognitif), sikap (ranah afektif), dan ketrampilan (ranah psikomotorik). Nilai berupa angka atau huruf yang diperoleh dari tes prestasi belajar pada akhir catur wulan, semester, atau masa pendidikan, merupakan simbol dari hasil belajar siswa. Seorang siswa mencapai prestasi belajar apabila sekurang-kurangnya memperoleh skor atau nilai yang menunjukkan penguasaan 60% dari pelajarannya.
2.   Kedisiplinan Guru
Kedisiplinan, sebagai aspek yang umum dalam setiap kelas, sulit untuk dikaji. Kedispilinan tidak muncul sebagai entitas tersendiri melainkan kumpulan dari banyak faktor. Uraian ini akan dimulai dengan mitos-mitos di sekitar kedisiplinan, keterkaitan kedisiplinan dengan pembelajaran dalam pengelolaan kelas yang efektif, berbagai jenis pengelolaan kelas yang digunakan guru untuk mendorong kedisiplinan dan pembelajaran siswa.
Dalam kajian Kindsvatter & Levine, ada dua puluh mitos tentang kedisiplinan dalam kelas. Mitos-mitos terebut diterima secara luas dan menjadi dasar bagi pengambilan keputusan guru. Akan tetapi, menurut Kindsvatter & Levine, jika dicermatai lebih dalam mitos-mitos terebut tidak valid secara pedagogis, bahkan secara keseluruhan merusak prinsip-prinsip umum yang sudah diterima masyarakat demokratik: penghormatan terhadap harga diri siswa, penstrukturan kelas berdasarkan kebutuhan dan kecendrungan siswa, penggunaan wewenang guru dalam kelas secara adil, dan tanggungjawab guru untuk memotivasi siswa.
Mitos-mitos tentang kedisiplinan, disertai pasangannya prinsip-prinsip kedisiplinan yang demokratis, disajikan dalam tabel berikut:
Tabel 1. Mitos-mitos Kedisiplinan

Mitos kedisiplinan

Prinsip mendukung

1.    Perilaku meyimpang siswa adalah kesalahan siswa itu sendiri.
Perilaku meyimpang disebabkan banyak faktor, bisa juga karena karakter atau praktek guru.
2.    Kedisipilinan dipahami secara realistik sebagai pertarungan kekuasan antara guru dengan siswa.
Akal dan bukan paksaan, merupakan basis yang kuat bagi kedisiplinan, kedisiplinan ialah melakukan sesuatu untuk siswa dan bukan melakukan sesuatu terhadap siswa.
3.    Kendali yang bagus tergantung kepada penemuan aturan yang benar.
Kendali yang bagus didapat melalui penilaian yang benar terhadap sistem kepercayaan.
4.    Setiap guru bisa mengelola disiplin kelas secara paling efektif.
Potensi guru berbeda-beda dalam mengelola kedisiplinan kelas, karena perbedaan kepribadian dan sistem kepercayaan.
5.    Guru yang terbaik ialah yang memiliki kelas dengan siswa paling jarang berperilaku menyimpang.
Intimidasi bertentangan dengan kemanusiaan, ia hanya menunjukkan rendahnya ketrampilan interpersonal guru atau kematangan sosialnya.
6.    Kelas yang baik ialah kelas yang tenang.
Sifat kegiatan belajar yang semestinya menentukan sifat partisipasi siswa, dan kadang-kadang kegaduhan partisipasi—pada taraf yang masuk akal—diinginkan.
7.    Guru semestinya tidak tersenyum sebelum Lebaran.
Gaya mengajar yang menghindari rasa humor dan didasarkan pada sosok yang angker justru merusak.
8.    Tanggapan guru terhadap perilaku menyimpang semestinya selalu diarahkan pada perilaku menyimpang itu sendiri.
Menanggapi perilaku menyimpang tertentu secara langsung, terarah, dan tepat sesuai dengan konteksnya mungkin mustahil bagi guru. Akan tetapi akibat logis dari setiap perilaku menyimpang sama saja; maka tanggapan umum yang menekankan perbaikan perilaku sering lebih tepat.
9.    Hukuman itu mendidik.
Akibat yang logis ialah yang difokuskan pada kepentingan terbaik siswa, hukuman hanya memenuhi kepentingan penghukum. Hasil yang pasti dari hukuman ialah penderitaan si terhukum. Belajar menghormati dan menghargai, bukan ketakutan, yang semestinya ditanamkan melalui kedisiplinan.
10. Guru harus menggunakan hukuman yang keras karena siswa-siswa yang “badung” tidak akan kapok dengan hukuman ringan.
Untuk siswa-siswa yang mengalami hukuman keras di rumah, justru guru harus memperlakukan mereka dengan bersahabat dan berpengertian sesuai dengan prinsip-prinsip relasi kemanusiaan.
11. Perilaku guru hanya bisa dipahami dalam pengertian peran instruksionalnya.
Dari sudut pandang kebutuhan manusia pribadi, pengajaran ialah alat yang penting dalam kehidupan guru untuk memuaskan kebutuhan-kebutuhan psikologis seperti kekuasaan, keamanan, harga diri.
12. Perilaku siswa hanya bisa dipahami dalam pengertian perannya sebagai siswa.
Kebutuhan sosial dan psikologis siswa juga ada dalam kelas. Kebutuhan siswa untuk sosialisasi dan status tidak kalah pentingnya dengan kebutuhan akademiknya.
13. Siswa tidak mengetahui bagaimana berperilaku yang pantas.
Siswa tidak perlu diajari bagaimana berperilaku yang tepat selain diyakinkan bahwa kepentingan terbaik mereka sesuai dengan harapan guru dan sekolah.
14. Siswa sengaja ‘menguji’ guru untuk menemukan apa yang bisa mereka dapatkan darinya.
Tidak ada konspirasi yang sadar dari sisi siswa untuk menguji guru. Akan tetapi siswa tidak nyaman secara psikologis sampai mereka mengetahui batas-batas—de facto bukan de jure—kebebasan mereka dalam kelas.
15. Guru semestinya tidak memeriksa catatan siswa untuk mencegah timbulnya prasangka karena informasi negatif.
Guru semestinya mengetahui sebanyak mungkin informasi tentang siswanya untuk mengambil keputusan yang paling sesuai kepentingan siswa.
16. Konsistensi harus didahulukan dari segala pertimbangan yang lain.
Penilaian guru yang mendalam dan adil harus didahulukan daripada konsistensi yang kaku.
17. Menyibukkan siswa bekerja akan mencegah perilaku menyimpang.
Menyibukkan siswa dengan penugasan yang penuh perhitungan sangat penting bagi keteraturan kelas maupun produktivitas belajar, akan tetapi kesibukan bekerja tanpa kesadaran tidak pernah dibenarkan. Lebih jauh, kesibukan bekerja menimbulkan kebosanan yang pada gilirannya merangsang perilaku menyimpang.
18. Siswa akan menurut jika diberi insentif tertentu yang memadai.
Imbalan yang tepat memang sudah pada tempatnya, akan tetapi insentif yang bersifat menyogok tidak hanya tak pantas bahkan bisa diperalat siswa untuk memanipulasi guru.
19. Siswa akan baik pada guru jika mereka mengaggap guru sebagai ‘gangnya’.
Peran guru yang benar mencakup wewenang dan kepemimpinan, dan kredibilitas dan efektifitas guru akan direndahkan oleh sebagian perilaku guru yang dimaksudkan hanya untuk mencari popularitas.
20. Semua perilaku menyimpang harus diatasi dengan langsung dan tuntas.
Perilaku menyimpang yang mengganggu pembelajaran harus dihentikan begitu terdeteksi. Namun, sebagian perilaku menyimpang memerlukan kepekaan guru pada kebutuhan siswa terhadap bantuan, sehingga guru semestinya tidak terlalu cepat menjatuhkan ponis yang hanya akan memperunyam masalah.
Sumber: Kindsvatter, Wilen, & Ishler, 2006, h 83-85.
Dari tabel di atas tampaklah bahwa kedisiplinan sering dipandang hanya sebagai reaksi terhadap perilaku menyimpang dan usaha memulihkan keteraturan kelas. Jika ini yang terjadi maka tujuan bisa menghalalkan cara yang justru akan membangkitkan teknik-teknik pengendalian yang menyesatkan. Akan tetapi kedisiplinan yang mendidik adalah yang menggunakan pendekatan demokratik Pendekatan ini berfungsi sebagai pemandu maupun pemeriksa tehadap keputusan guru yang terkait dengan kedisipilinan.
Untuk menerapakan kedisiplinan yang demokratik menurut Kindsvatter, Willen & Ishler pertama-tama perlulah dijernihkan korelasi antara kedisiplinan dengan pembelajaran itu sendiri. Banyak strategi dan perilaku guru yang dimaksudkan sebagai pembelajaran efektif berjalan secara simultan dengan, akan tetapi diciutkan menjadi, usaha pengurangan perlaku menyimpang siswa. Sebagian perilaku guru bercorak pembelajaran, sebagian lagi bercorak pendisiplinan. Antara kedua kutub ekstrim ini ada wilayah yang disebut pengelolaan kelas. Strategi pencegahan dan strategi pengelolaan kelas, misalnya menyatakan harapan secara jelas atau membangun kebiasaan kelas secara efektif, terdapat di dalam wilayah ini. Pengelolaan kelas oleh guru dengan demikian pada esensinya melibatkan pembelajaran dan pengendalian perilaku atau pendispilinan.






Sebagaimana diperagakan pada Gambar 1, pengelolaan terdapat diantara dua kontinuun pembelajaran dan pendisplinan. Ini menunjukkan bahwa kelas bisa dikelola dengan menggunakan disiplin yang keras dan otoriter sebagaimana berlaku dalam sistem militer. Masalah pengendalian perilaku minimal dan dilakukan dengan cepat dan efisien. Gambar tersebut juga menunjukkan bahwa kelas bisa dikelola dengan menggunakan praktek pembelajaran. Semua siswa sibuk mengerjakan tugas indvidual di meja masing-masing dan guru memberi bantuan kepada siswa yang memerlukan seperti layaknya sebuah laboratorium industri.
Pendekatan kedisiplinan yang demokratik menurut Kindsvatter, Wilen, & Ishler memiliki ciri-ciri sebagai berikut: (1) didasarkan pada prinsip-prinsip pedagogis dan relasi kemanusiaan dan dalam semua keadaan menjaga martabat dan integritas pribadi siswa, (2) mengembangkan kepercayaan yang secara demokratis menghasilkan hasil belajar-sosial dan personal yang penting, (3) memantulkan kepercayaan bahwa peningkatan kendali diri siswa tidak kalah pentingnya daripada mencapai apa yang mereka kehendaki, (4) dimaksudkan untuk melakukan sesuatu untuk siswa ketimbang melakukan sesuatu terhadap mereka, (5) mencegah pembesaran masalah yang sudah mengganggu siswa.
Senada dengan pendapat di atas, Cole & Chan berpendapat bahwa pengelolaan kelas merupakan konsep yang cukup luas dan merujuk kepada atribut kedisiplinan, efisiensi pembelajaran, dan ketrampilan organisas. Dalam pengertian ini konsep pengelolaan kelas oleh guru mengandung arti perlunya kedisiplinan diintegrasikan dengan kompetensi pembelajaran dan keorganisasian. Sehubungan dengan itu menurut Cole dan Chan ada empat strategi pengelolaan kelas, yaitu (1) strategi M, (2) strategi R, dan (3) strategi P, dan (3) strategi C.
Strategi M berusaha memelihara (maintenance) efisiensi pembelajaran dan pengembangan lingkungan yang mendukung untuk pembelajaran dalam kelas. Tujuannya ialah mencegah penyimpangan dan memperkecil kemungkinan terjadinya situasi konflik dan krisis dengan mengembangkan program pembelajaran yang tepat dan mengorganisir lingkungan belajar yang mendukung. Siswa-siswa yang memiliki tujuan dan motivasi yang tepat untuk belajar jarang sekali memerlukan tindakan pendisiplinan oleh guru. Siswa yang tertarik pada materi pelajaran dan memandang mulia korelasi antara guru dan siswa kecil kemungkinannya melakukan penyimpangan. Demikian juga, guru yang berhasil menciptakan iklim kelas yang teratur dan memenuhi kebutuhan individual siswanya tidak akan mengalami kesukaran dalam pengeloalan kelasnya. Penggunaan strategi M mensyaratkan agar guru menciptakan dan memelihara keteraturan kelas dengan cara menerapkan aturan-aturan, kebiasaan-kebiasaan, dan prosedur-prosedur melakukan aktivitas dalam kelas.
Strategi R didasarkan pada penguatan (reinforcement) dan teknik-teknik modifikasi perilaku lainnya. Seperti halnya strategi M, tujuan utama strategi R ialah untuk mendorong penyesuaian perilaku dan mencegah munculnya perilaku menyimpang. Guru-guru yang menggunakan strategi R memakai teknik-teknik operant conditioning untuk mengendalikan perilaku siswa. Dalam teknik ini perilaku siswa yang sesuai diberi imbalan, misalnya berupa pujian atau dorongan, dan sebaliknya perilaku siswa yang tidak sesuai diberi hukuman. Hampir semua bentuk imbalan dan pujian menimbulkan dampak yang bagus dan membantu guru mengembangkan iklim yang positif dalam pengelolaan kelas. Pemberian hukuman juga bisa mengubah perilaku siswa secara efektif akan tetapi sering pula menimbulkan akibat yang tidak diinginkan jika digunakan secara serampangan. Bahkan hampir semua bentuk hukuman berpotensi menimbulkan dampak yang merusak terhadap korelasi antara guru dan siswa.
Strategi P juga memainkan peranan penting dalam pengelolaan kelas. Strategi ini tergantung kepada kemampuan guru membujuk (persuade) siswa untuk menyesuaikan diri dengan norma-norma perilaku sosial yang diterima. Staregi ini didasarkan pada penggunaan teknik-teknik bimbingan dan konseling untuk mengubah perilaku siswa. Guru-guru yang menggunakan teknik ini memiliki komitmen yang kuat terhadap nilai bujukan dan mampu “berbicara dengan siswa dengan bahasa yang mereka pahami”. Empati guru merupakan faktor yang penting dalam efektifitas penggunaan strategi P. Strategi ini paling digunakan dalam lingkungan yang bebas-tekanan di luar jam kelas yang biasa. Namun para guru sering skeptis dengan strategi P dan berpendapat bahwa strategi tersebut terlalu memakan waktu dan tidak banyak yang dapat dihasilkan dari “berbicara dengan siswa tentang masalah mereka”. Walaupun penggunaan teknik ini jarang menghasilkan perubahan perilaku yang cepat akan tetapi bisa menghasilkan perubahan perilaku yang bertahan lama.
Strategi C didasarkan kepada teknik pengendalian konflik dan krisis (conflik and crisis control). Teknik ini digunakan untuk mengatasi masalah-masalah perilaku yang merusak kelas dan membutuhkan intervensi langsung dari guru. Tujuannya ialah untuk mendifusikan situasi masalah sebelum segala sesuatunya tidak terkendali. Jika ada krisis yang mengganggu kelas, misalnya keributan yang bisa berujung pada perkelahian, sejumlah langkah pemecahan disarankan untuk guru: (1) tetap tenang, tidak kalap dan bereaksi secara emosional yang justru bisa memperburuk keadaan, (2) melakukan pendekatan secara tenang dan memastikan agar siswa mendengarkan guru, (3) memisahkan siswa-siswa yang bermasalah dari kelas, (4) memastikan agar siswa yang tidak terlibat keributan kembali mengerjakan tugas kelas atau tugas sekolah lainnya, (5) meminta siswa-siswa yang bermasalah untuk menjelaskan perilaku masing-masing dan memberikan resolusinya secara adil, dan (6) mengembalikan siswa yang bermasalah ke kelas masing-masing, dalam hal ini pelibatan langsung dalam kegiatan kelas akan mempercepat solusi, namun jika perlu siswa yang berulangkali menimbulkan masalah dipisahkan dari kelas.
Keempat strategi tersebut memiliki kelebihan dan kekurangannya masing-masing. Namun menurut Kounin, Good & Brophi, dan Doyle di antara keempat strategi paling efektif sebagai basis bagi pengeloalan kelas ialah strategi M. Menurut Cole & Chan masing-masing dari keempat strategi efektif untuk masalah kedisiplinan yang berbeda dan waktu yang berbeda, akan tetapi strategi M lebih mungkin berhasil dalam jangka waktu yang lama. Jika guru memiliki program pembelajaran yang terususun dengan baik. Kebutuhan untuk menerapkan ketiga strategi yang lain akan berkurang. Namun demikian dalam pelaksaannya, strategi yang lain tetap dibutuhkan jika muncul masalah-masalah kedisiplinan yang memang hanya bisa dipecahkan dengan strategi-strategi tersebut.
Menurut Cole & Chan, prinsip-prinsip pengelolaan kelas yang berhasil bisa dikelompokkan ke dalam empat kategori: Kategori pertama berkaitan dengan sikap guru, kategori kedua dengan peningkatan lingkungan kelas positif, kategori ketiga dengan penetapan aturan-aturan kelas, dan kategori keempat dengan prosedur yang efektif untuik mengatasi siswa yang bermasalah. Kategori-kategori tersebut dijelaskan satu persatu sebagai berikut.
Kategori pertama, sikap guru terhadap pengelolaan kelas. Efektifitas pengelolaan kelas sebagian besar tergantung pada sikap guru dan hubungan yang terbentuk antara guru dengan siswa. Sikap guru yang disarankan ialah: (1) Membentuk hubungan positif dengan siswa. Tugas pengelolaan lebih mudah dilakukan dalam kelas yang terdapat hubungan bersahabat dan terpercaya antara guru dengan siswa. (2) Mengembangkan pandangan positif terhadap siswa, walaupun terhadap siswa yang sering menimbulkan masalah kedispilinan. Siswa yang berperilaku menyimpang lebih mungkin memberikan tanggapan positif terhadap saran guru apabila mereka mengetahui bahwa sang guru memiliki pengertian yang empatik dan penerimaan yang tulus terhadap pribadi siswa. (3) Mengembangkan pendekatan yang percaya diri dan optimistik dalam pengelolaan kelas. Siswa akan memberikan tanggapan yang baik kepada guru yang menunjukkan kehendak yang kuat untuk membangun sistem pengelolaan kelas yang efisien.
Kategori kedua, memajukan lingkungan kelas yang positif. Pendekatan yang positif terhadap manajemen kelas memerlukan pengambilan langkah-langkah yang konstruktif untuk memajukan lingkungan belajar yang mendukung dan mendorong siswa agar menghargai tujuan tersebut dan agar berperilaku secara tepat untuk meraihnya. Untuk itu disarankan para guru: (1) Menerapkan praktek pengelolaan kelas yang didasarkan pada pencegahan daripada pengendalian. Perilaku menyimpang kecil kemungkinan terjadinya jika lingkungan belajar terstruktur secara tepat sehingga memperkecil peluang terjadinya penyimpangan. (2) Menyusun program kelas yang memperkecil kegaduhan dan kelambatan. Para siswa seringkali menjadi gaduh jika mereka harus menunggu bahan belajar atau jika kegiatan belajar terputus. (3) Membentuk prosedur pengelolaan berdasarkan komtimen yang kuat terhadap kebiasaan bekerja secara teratur. Siswa yang terlibat aktif dalam tugas individu biasanya mudah dikelola, terutama jika kegiatan tersebut sesuai dengan minat dan kemampuan mereka. (4) Mengubah prosedur kelas yang menyebabkan kegaduhan atau kegalauan. Perilaku menyimpang kadang-kadang merupakan hasil langsung dari pembelajaran yang buruk atau pengelolaan yang keliru oleh guru dan oleh karena itu penting sekali bagi guru untuk mengubah prosedur yang tidak substansial yang membawa kepada konfrontasi atau ketidakharmonisan.
Kategori ketiga, menetapkan aturan-aturan kelas. Pendekatan positif terhadap pengelolaan kelas mensyaratkan agar siswa menyadari batas-batas perialku yang diterima dan tidak diterima. Seperangkat aturan yang masuk akal mestilah dirumuskan secara jelas dan siswa perlu diberi informasi yang gamblang tentang konsekuensi dari pelanggaran aturan. Prinsip-prinsip yang  disarankan pada guru ialah: (1) Membentuk kebiasaan pengelolaan sejak dini pada awal tahun belajar. Siswa lebih mungkin memberikan tanggapan positif terhadap prosedur pengelolaan kelas yang dilaksanakan sejak dini dalam program belajar. (2) Mengupayakan partisipasi siswa dalam menegakkan aturan-aturan kelas. Siswa pada umumnya mendukung sistem tatanan di mana mereka terlibat dalam membentuknya. (3) Menjelaskan kepada siswa alasan-alasan dibalik setiap aturan. Siswa akan memberikan tanggapan yang positif jika mereka mengetahui keharusan tatanan dan memahami kewajiban-kewajiban mereka terhadap kelas. (4) Menetapkan sesedikit mungkin aturan dan memastikan bahwa aturan tersebut dinyatakan secara sederhana sehingga bisa dipahami semua siswa. Siswa akan bingung jika jika aturan terlalu banyak atau bercampur dengan yang tidak diperlukan. (5) Menunjukkan konsistensi dalam menegakkan aturan kelas. Siswa lebih mungkin memberikan tanggapan positif terhadap guru jika mereka mempersepsinya sebagai orang yang dapat diandalkan. (6) Memberikan penguatan positif terhadap individu siswa yang mematuhi aturan kelas. Siswa pada umumnya memberikan tanggapan yang baik terhadap pujian dan dorongan dan akan merasa nyaman jika kerjasamanya diakui. (7) Memberi penguatan positif terhadap kelas jika sesuai dengan aturan sekolah atau kelas. Siswa cenderung menganggap diri mereka sebagai anggota kelompok yang kohesif, dan rasa kebersamaan ini menguat jika perilaku kerjasama mereka diberi imbalan kelompok.
Kategori keempat, mengatasi perilaku menyimpang siswa. Betapapun efektifnya guru dalam membentuk struktur lingkungan belajar yang positif, namun perilaku siswa yang tak pantas atau menyimpang masih mungkin terjadi setiap saat. Dalam situasi itu, adalah penting bagi guru untuk selalu menjaga sikap positif terhadap pengelolaan kelas. Siswa harus menyadari bahwa guru proaktif dalam membentuk perilaku yang diterima dan tidak hanya menunggu bereaksi terhadap tanda-tanda perilaku yang menyimpang. Untuk itu disarankan agar guru: (1) Jika mendisplinkan siswa, menfokuskan pada perilaku menyimpang itu sendiri dan bukan pada faktor-faktor pribadi yang mungkin melandasi perilaku yang tak pantas tersebut. Siswa akan memberikan tanggapan positif kepada guru yang tidak melukai atribut-atribut pribadi mereka. (2) Menjelaskan aspek negatif dari perilaku menyimpang. Siswa pada umumnya memberikan tanggapan positif terhadap saran-saran perubahan jika mereka memahami konsekuensi dari penyimpangan. (3) Mengabaikan perilaku mencari perhatian kecil-kecilan yang dilakukan siswa. Kritik guru atau perhatian yang tidak tepat biasanya hanya memperkuat jenis perilaku menyimpnag seperti ini. (4) Tetap rasional dalam menghadapi perilaku menyimpang siswa. Siswa menghormati guru yang menggunakan alasan-alasan atau pembatasan-pembatasan yang masuk akal dalam mengelola kelas. (5) Jangan mengancam siswa dengan hukuman. Siswa tidak memberikan tanggapan positif terhadap intimidasi dan mereka sangat kritis terhadap ancaman yang tidak dingatkan sebelumnya atau yang tidak dilaksanakan sesudahnya. (6) Jangan sesekali melukai perasaan atau mengasari siswa. Siswa memberikan tanggapan negatif terhadap sarkasme, ironi, dan kekasaran dan sering memberikan reaksi terhadap pernyataan yang melecehkan dengan cara menolak bekerjasama dalam tugas-tugas sekolah. (7) Berusaha mengelola perilaku menyimpang yang gawat dengan cara melakukan pertemuan atau konseling pribadi. Sebagian besar masalah siswa bisa dipecahkan melalui konseling, terutama jika dilaksanakan secara terpisah dari ketegangan-ketegangan yang terdapat dalam kelas. (8) Hindari penggunaan prosedur-prosedur korektif yang menghukum. Walaupun sebagian siswa memberi tanggapan terhadap prosedur assertive namun ada alasan etis dan legal untuk menghindari praktek tersebut. (9) Minta bantuan dari guru yang berpengelaman jika konflik tidak bisa dipecahkan dengan menggunakan prosedur pengelolaan yang biasa. Guru yang berpengalaman bisa sangat membantu memecahkan masalah yang lebih serius dalam pengelolaan kelas. (10) Bekerjasama dengan kepala sekolah, orangtua, dan guru BP dalam memberikan program alternatif jangka pendek untuk siswa yang bermasalah dalam mengikuti kebiasaan sekolah. Sebagian siswa, karena berbagai kesulitan di luar sekolah, sebaiknya ditempatkan dalam program alternatif jangka pendek sebagai periode penyesuaian dalam waktu singkat.
Berdasarkan uraian-uraian di atas dapatlah ditarik sintesis bahwa pada dasarnya kedisiplinan tidak bisa dipisahkan dengan pembelajaran, dan keduanya merupakan wilayah garapan dari pengelolaan kelas. Pengelolaan kelas itu sendiri membutuhkan kemampuan organisasional dari pihak guru. Dengan demikian guru yang memiliki kemampuan organisasional yang bagus, mampu mengelola kelas sedemikian rupa sehingga pembelajaran sehari-hari bisa dilaksanakan secara berdisplin, atau kedisiplinan bisa dilaksanakan sebagai bagian dari proses pembelajaran sehari-hari.
Dengan demikian, maka pelaksanaan kedisiplinan yang efektif oleh guru harus sejalan dengan pelaksanaan pembelajaran yang efektif pula, melalui penerapan prinsip-prinsip pengelolaan kelas yang berhasil. Prinsip-prinsip pengelolaan kelas yang berhasil ialah yang didasarkan pada peningkatan lingkungan kelas positif, penetapan aturan-aturan kelas, dan penggunaan prosedur-prosedur yang efektif untuk mengatasi siswa yang bermasalah.
3.   Perhatian Orangtua
Masalah perhatian orangtua dan komunitas dalam sekolah anak telah lama menjadi perhatian para peneliti pendidikan. Sejak 30 tahun terakhir, menurut Fullan, telah ratusan hasil kajian diterbitkan berupa buku atau artikel yang membahas masalah ini. Walaupun di antara hasil kajian ada yang kontradiktif, membingungkan, dan susah dipahami, namun menurut Fullan selanjutnya, ada sebuah benang merah yang bisa ditarik secara tegas dari hasil-hasil kajian tersebut bahwa: “the closer the parents to the education of the child, the greater the impact on child development and educational achievement. Yakni, semakin dekat orangtua dengan pendidikan anak, semakin besar pengaruhnya terhadap perkembangan anak dan prestasi akademik mereka.
Setidak-tidaknya ada tiga pendekatan yang digunakan untuk memahami pengaruh orangtua terhadap prestasi anak-anaknya di sekolah. Yang pertama faktor kelas sosial orangtua, yang kedua faktor perilaku orangtua dalam menyediakan lingkungan yang mendukung pengembangan intelektualitas dan emosional anak, dan yang ketiga faktor keterlibatan orangtua dengan sekolah anak.
Tentang faktor kelas sosial orangtua, Rosen mencatat bahwa kelas sosial bertanggungjwab terhadap sebagian besar perbedaan motivasi berprestasi siswa antar kelompok-kelompok etnis. Yakni, jika kelas sosial sama maka perbedaan antar kelompok etnis cenderung lenyap. Bukti-bukti lain juga menunjukkan bahwa rumahtangga kelas menengah dengan keluarga kecil menghasilkan anak-anak yang berorientasi prestasi tinggi.
Uraian yang lebih mendetail mengenai pengaruh kelas sosial orangtua terhadap prestasi sekolah anak di sekolah dijelaskan melalui penelitian yang dilakukan Newson dkk dalam karya mereka Perspectives on School at Seven Years Old. Sebagaimana dikutip Robinson, Newson dkk melakukan kajian mengenai pengaruh status sosial ekonomi orangtua terhadap pendidikan anak-anak di sekolah dengan menggunakan dua pengukuran. Pertama, melalui indeks perhatian kultural secara umum yang berisi hal-hal seperti apakah orang tua mengeluarkan uang untuk pelajaran-pelajaran ekstra anak mereka, apakah mereka mengajak anak-anak mereka, misalnya ke bioskop, teater, museum, kebun bintang, dan pertandingan sepakbola. Kedua, melalui indeks keselarasan antara rumah dan sekolah, yang mencakup hal-hal seperti apakah anak-anak membawa barang ke sekolah untuk diperlihatkan pada gurunya, apakah si anak bertanya tentang hal-hal yang didengarnya di kelas, dan apakah orang tua berusaha membantu pekerjaan sekolahnya.
Melalui kedua indeks ini Newson dkk mengukur perhatian orang tua terhadap sekolah anak berdasarkan golongan sosial keluarga, mulai dari golongan profesional tingkat atas dan tingkat terendah sampai pada golongan pekerja kasar tanpa ketrampilan. Secara ringkas, kedua indeks tersebut menunjukkan kecendrungan bahwa: Semakin rendah golongan sosial keluarga maka: (1) semakin sempit dan terbatas lingkup perhatian kultural yang dialami anak-anak sebagai anggota kelompok keluarga; (2) semakin jauh minat anak-anak mereka dari topik-topik sekolah; (3) semakin tidak berminat orang tua menanggapi pertanyaan-pertanyaan anak dari sumber apapun dan dengan cara bagaimanapun; (4) semakin kecil kemungkinan orang tua menggunakan buku atau surat kabar sebagai pendorong pengetahuan anak, dan bahkan (5) semakin besar kemungkinan orangtua menyembunyikan kebodohan mereka terhadap anak; (6) semakin kecil kemungkinan anak mendapat bantuan, baik secara langsung maupun secara tak langsung melalui suasana rumah yang ramah, dalam pekerjaan sekolah anak di luar membaca.
Faktor perilaku orangtua dalam menyediakan lingkungan di dalam rumah tangga yang mendukung pengembangan intelektual anak telah dikaji oleh Wolf.  Wolf, sebagaimana dikutip Gage & Berlinger, mengidentifikasi ranah-ranah lingkungan yang penting yang mencakup: (1) Penekanan orangtua terhadap motivasi berprestasi dalam bentuk harapan-harapan intelektual terhadap anak-anaknya, aspirasi mereka terhadap anak-anaknya, jumlah informasi yang dimiliki tentang perkembangan intelektual anak-anaknya, dan berbagai jenis hadiah yang diberikan untuk perkembangan intelektual anaknya. (2) Penekanan orangtua terhadap perkembangan bahasa, yang mencakup penekanan menggunakan bahasa dalam berbagai situasi, menyediakan kesempatan untuk memperluas kosa kata anak-anak, menekankan kebenaran penggunaan bahasa, dan kualitas model bahasa ortangtua yang disediakan untuk anak-anak. (3) Pemberian orangtua terhadap peluang-peluang belajar di rumah dan di luar rumah (termasuk sekolah) dengan menyediakan perlengkapan belajar, buku-buku (termasuk karya-karya referensi), terbitan berkala, dan fasilitas perpustakaan, dan berbagai fasilitas belajar lainnya dalam berbagai situasi.
Wolf menandai ranah-ranah dalam lingkungan rumahtangga selama 90 menit, 69 pertanyaan wawancara dengan ibu (atau kadangkala dengan kedua orangtua) dari 60 siswa kelas lima yang mewakili beberapa jenjang kelas sosial dalam komunitas kota menengah Midwestern. Pengukuran tersebut berkaitan dengan 13 variabel, ketika ditambahkan bersama dengan timbangan yang sesuai, berkorelasi 0,76 dengan IQ siswa. Namun tingginya koefisien ini mungkin tidak mencerminkan hubungan sebab akibat. Ia mungkin berasal dari pengaruh kecerdasan umum orangtua sekaligus pengaruh lingkungan nilai-nilai dan perilaku orangtua. Namun korelasi antara IQ orangtua dengan IQ anak tetap hanya sekitar 0,5. Jadi Wolf menyingkapkan sebagian dari proses lingkungan melalui mana kecerdasan ortangtua bekerja. Artinya perilaku orangtua yang terkait dengan pengembangan intelektualitas anak, dan bukan kecerdasan orangtua itu sendiri, yang lebih berpengaruh terhadap prestasi akademik anak di sekolah.
Menurut Gage & Berliner, perilaku orangtua yang terkait dengan prestasi intelektual siswa bisa berperan sebagai panduan bagi guru. Apakah perilaku ini berhubungan sebab-akibat atau tidak dengan perkembangan intelektual anak masih menjadi persoalan. Yang pasti, sebagian lingkungan rumahtangga yang menguntungkan ialah kecerdasan orangtua sendiri, yang bisa mempengaruhi gaya hidup maupun warisan kecerdasan anak-anak mereka. Variabel rumah tangga yang menimbulkan perbedaan dalam prestasi intelektual anak-anak ialah yang memantulkan kekuatan intelektual yang bekerja di dalam interaksi orangtua dengan anak-anak, seperti percakapan, membaca, buku-buku dan bahan-bahan lain yang tersedia, model perilaku, dan nilai-nilai orangtua. Ringkasnya, “intelektualitas” rumahtangga bisa dirating dengan berbagai cara, dan secara substansial ia berkorelasi lebih tinggi dengan prestasi intelektual anak-anak daripada kelas sosial dan IQ orangtua.
Selain unsur intelektualitas, unsur emosional di rumah tangga juga penting untuk prestasi anak di sekolah. Sehubungan dengan ini, menurut Wannoy, dalam karyanya 10 Anuegrah Terindah untuk Ananda, pendidikan yang efektif dalam keluarga hanya terjadi jika orang tua “mengasuh anak dengan hati.” Sedangkan mengasuh dengan hati tersebut dilakukan melalui lima sarana sebagai berikut: (1) Fokus kedepan pada hal-hal yang berjalan dengan baik, pada keberhasilan, kebahagiaan, dan antisipasi keluarga menghadapi hal-hal yang baik, dan pada pengetahuan bahwa orang tua mampu memecahkan masalah yang timbul. (2) Mendengarkan pikiran, perasaan, dan cerita anak dengan penuh perhatian. (3) Mengajarkan melalui penemuan, membiarkan anak belajar dengan caranya sendiri. (4) Memberikan pesan-pesan yang memberdayakan: menemukan perbuatan anak yang baik, mengakui, dan merayakan perilaku yang sekecil apapun, yang merupakan keseluruhan visi orang tua terhadap anak. (5) Memberi teladan tentang nilai diri sendiri, tentang pemilihan fokus diri sendiri secara sadar, dan tentang sumbangan diri sendiri terhadap keluarga dan dunia.
Mengenai faktor keterlibatan orangtua dengan sekolah anak, Epstein yang melaksankan penelitian sistematik selama dasawarsa sebelumnya terhadap interaksi orangtua dan sekolah menyatakan:
Ada bukti yang konsisten bahwa dorongan, aktivitas, minat orangtua di rumah dan partisipasi mereka di sekolah mempengaruhi prestasi anak-anaknya, bahkan setelah mengontrol kemampuan siswa dan latar belakang status sosial ekonominya. Siswa mencapai perkembangan pribadi dan akademik jika keluarganya menekankan sekolah, membiarkan anak-anaknya mengetahu apa pekerjaan mereka, dan melakukan hal itu secara terus-menerus di sepanjang tahun.

Menurut Epstein & Dauber bentuk-bentuk keterlibatan orangtua dengan sekolah anak meliputi: (1) keterlibatan orangtua di sekolah (misalnya, menjadi relawan, asisten), (2) keterlibatan orangtua dalam aktivitas belajar di rumah (misalnya, membantu anak di rumah, tutor di rumah), (3) hubungan rumah/komunitas dengan sekolah (misalnya, komunikasi), (4) pengaturan (misalnya, dewan sekolah). Dua bentuk keterlibatan pertama berkaitan langsung dengan pembelajaran sedangkan dua yang terakhir berkaitan secara tak langsung dengan penbelajaran. Bentuk keketerlibatan yang bekaitan langsung dengan pembelajaran menimbulkan pengaruh yang lebih besar pada belajar anak dibandingkan dengan dua bentuk keterlibatan lainnya.
Persoalannya tidak semua orangtua berminat terhadap tugas sekolah anak-anaknya dan tidak pula semua guru dan sekolah yang berusaha mendorong keterlibatan orangtua. Padahal dalam kajian Mortimore terhadap sekolah efektif, praktek-praktek keterlibatan orangtua termasuk diantara 12 faktor kunci yang membedakan sekolah efektif dengan sekolah tak efektif.
Temuan-temuan kami menunjukkan bahwa keterlibatan orangtua dalam kehidupan sekolah anak berpengaruh positif terhadap kemajuan dan perkembangan anak-anak. Keterlibatan ini mencakup bantuan di dalam kelas, kunjungan pendidikan, dan mengikuti rapat yag membahas kemajuan anak-anak. Akses langsung kepala sekolah dengan orangtua juga penting: sekolah-sekolah yang menjalankan kebijakan informal pintu terbuka ternyata lebih efektif. Keterlibatan orangtua dalam perkembngan pendidikan siswa di rumah juga bermanfaat. Orangtua yang membaca untuk anak-anaknya, mendengarkan mereka membaca, dan memberi mereka akses terhadap buku-buku di rumah, menimbulkan pengaruh positif terhadap belajar anak-anaknya.
Juga penting dicatat bahwa praktek-praktek keterlibatan orangtua dengan sekolah anak ternyata juga berhasil terhadap orangtua berpendidikan rendah dan anak-anak berkemampuan kurang, yang membedakan justru sikap dari sekolah itu sendiri. Johnson, Brookover & Farrel meneliti korelasi antara persepsi kepala sekolah, guru, dan siswa terhadap harapan orangtua dan keterlibatan orangtua dengan “perasaan putus-asa akademik’ yang didefinisikan sebagai persaaan siswa bahwa mereka tidak mampu mencapai keberhasilan dalam sistem sosial sekolah, atau perasaan takberdaya. Mereka menguji tiga kelompok sampel siswa kelas empat dan lima di Michigan: sampel campuran, sampel mayoritas kulit putih, dan sampel mayoritas kulit hitam.
Johnson dkk menemukan, sesuai dengan dugaan, bahwa persepsi terhadap rendahnya harapan orangtua atas anak-anaknya sangat berhubungan erat dengan perasaan putus-asa akademik siswa. Namun mereka juga menemukan perbedaan penting di antara kelompok. Untuk sampel campuran dan mayoritas kulit putih, “persepsi kepala sekolah dan guru terhadap minat dan harapan orangtua atas anak-anaknya tidak berpengaruh besar terhadap perasaan takberdaya anak-anak. Sedangkan “pada sampel mayoritas kulit hitam, persepsi kepala sekolah dan guru terhadap minat dan harapan orangtua atas anak-anaknya menjelaskan sebagian besar varians di dalam perasaan takberdaya anak-anak. Dengan kata lain, bagi sampel campuran dan sampel mayoritas kulit putih persepsi siswa terhadap harapan orangtua merupakan pengaruh kunci, sedangkan sampel mayoritas kulit hitam persepsi siswa terhadap harapan orangtua merupakan faktor yang menentukan, terhadap perasaan tak berdaya anak dalam prestasi akademik.
Untuk mengefektifkan keterlibatan orangtua dengan sekolah anak, Fullan menyarankan sejumlah hal yang harus dilakukan orangtua: (1) Memilih sekolah dengan memeriksa sejarah dan sikap setiap sekolah terhadap keterlibatan orangtua dan komunitas. (2) Memberi tanggapan dan melibatkan diri terhadap sekolah yang kepala sekolah dan guru-gurunya proaktif melibatkan orangtua dalam materi pembelajaran. (3) Memahami pekerjaan guru yang penuh tekanan, mungkin dari kepala sekolah, yayasan, pemerintah, atau berbagai program lainnya sehingga orangtua tidak perlu merasa ditolak oleh sebagian guru yang kurang responsif. (4) Membiasakan diri dengan kurikulum yang digunakan siswa melalui buku atau diskusi. (5) Bertanya kepada guru mengenai apa yang seharusnya dilakukan di rumah untuk membantu anak belajar. (6) Menyadari bahwa untuk memahami kurikulum atau perubahan program di sekolah diperlukan waktu dan interaksi. (7) Berusaha mempejari berbagai aktivitas yang berkaitan dengan anak agar bisa saling melengkapi dengan sekolah dalam mendidik anak. (8) Memperjuangkan hak, baik sendiri maupun bersama orangtua lain, dalam menghadapi prasangka, ketakpedulian, apalagi penolakan sekolah untuk bekerjasa dengan orangtua.
Berdasarkan uraian di atas tampaklah bahwa faktor status sosial ekonomi orangtua, faktor perilaku orangtua dalam pengembangan intelektualitas dan emosional anak, dan faktor keterlibatan orangtua dengan sekolah anak, semuanya berpengaruh terhadap prestasi anak di sekolah. Namun penelitian-penelitian empirik yang telah dikemukakan di atas menunjukkan, bahwa faktor status sosial ekonomi orangtua lebih kecil dibandingkan pengaruh perilaku orangtua. Perilaku orangtua dalam pengembangan intelektualitas dan emosional anak, apapun latar belakang status sosial ekonominya, lebih beperngaruh terhadap prestasi akademik di sekolah. Namun penelitian empirik yang diuraikan di atas juga menunjukkan bahwa keterlibatan orangtua dengan pendidikan anak di sekolah juga lebih besar pengaruhnya terhadap prestasi akademik anak di sekolah, terlepas dari status sosial ekonomi orangtua mereka dan taraf kecerdasan orangtua.
Perhatian orangtua terhadap pendidikan anak tampak dalam keterlibatan orangtua dengan sekolah anak. Dengan demikian perhatian orangtua diukur dari keterlibatan orangtua dengan sekolah anak, baik yang berkaitan langsung dengan pembelajaran maupu yang tidak berkaitan langsung dengan pembelajara. Keterlibatan yang berkaitan langsung dengan pembelajaran anak mencakup penyediaan sarana/prasasarana belajar, menciptakan suasana belajar yang nyaman di rumah, memeriksa kemajuan belajar anak, pembahasan masalah-masalah sekolah dengan anak, mengunjungi sekolah dalam kaitannya dengan kegiatan-kegiatan sekolah yang melibatkan anak secara langsung, serta bekerjasama dengan guru mermbantu memecahkan kesulitan belajar anak. Sedangkan keterlibatan yang tidak berkaitan langsung dengan pembelajaran mencakup kerterlibatan orangtua dalam pendanaan sekolah, keikutsertaan dalam organisasi orangtua siswa, dan keikutsertaan dalam rapat-rapat sekolah dan rapat-rapat organisasi orangtua siswa.

B. Kerangka Berpikir

1.   Hubungan kedisiplinan guru dengan hasil belajar siswa
Prestasi belajar merupakan tingkat keberhasilan yang dicapai seseorang dalam proses belajar dengan jangka waktu tertentu. Keberhasilan belajar itu berwujud perubahan-perubahan yang terukur dalam pengetahuan, sikap, dan ketrampilan. Nilai berupa angka atau huruf yang diperoleh dari tes prestasi belajar pada akhir catur wulan, semester, atau masa pendidikan, merupakan simbol dari hasil belajar siswa. Seorang siswa mencapai prestasi belajar apabila sekurang-kurangnya memperoleh skor atau nilai yang menunjukkan penguasaan 60% dari pelajarannya.
Kedisiplinan tidak bisa dipisahkan dengan pembelajaran, dan keduanya merupakan wilayah garapan dari pengelolaan kelas. Pengelolaan kelas itu sendiri membutuhkan kemampuan organisasional dari pihak guru. Dengan demikian guru yang memiliki kemampuan organisasional yang bagus, mampu mengelola kelas sedemikian rupa sehingga pembelajaran sehari-hari bisa dilaksanakan secara berdisiplin, atau kedisiplinan bisa dilaksanakan sebagai bagian dari proses pembelajaran sehari-hari.
Pelaksanaan kedisiplinan yang efektif oleh guru harus sejalan dengan pelaksanaan pembelajaran yang efektif pula, melalui penerapan prinsip-prinsip pengelolaan kelas yang berhasil. Prinsip-prinsip pengelolaan kelas yang berhasil ialah yang didasarkan pada peningkatan lingkungan kelas positif, penetapan aturan-aturan kelas, dan penggunaan prosedur-prosedur yang efektif untuk mengatasi siswa yang bermasalah.
Jika kedispilinan sudah menyatu dengan pembelajaran sehari-hari, dalam arti terciptanya lingkungan belajar yang positif, terbentuknya aturan kelas, dan tersedianya prosedur untuk mengatasi siswa bermasalah, maka terciptalah prakondisi bagi siswa untuk belajar dengan teratur sehingga dimungkinkan tercapainya prestasi belajar yang baik. Dengan demikian diduga kemampuan guru mendisiplinkan kelas berhubungan positif dengan prestasi belajar siswa.
2.   Hubungan perhatian orangtua dengan hasil belajar siswa
Perhatian orangtua ialah keterlibatan orangtua dengan sekolah anak, ada yang berkaitan langsung dengan pembelajaran anak dan yang tidak berkaitan langsung dengan pembelajaran anak. Keterlibatan yang berkaitan langsung dengan pembelajaran anak mencakup penyediaan sarana/prasasarana belajar, menciptakan suasana belajar yang nyaman di rumah, memeriksa kemajuan belajar anak, pembahasan masalah-masalah sekolah dengan anak, mengunjungi sekolah dalam kaitannya dengan kegiatan-kegiatan sekolah yang melibatkan anak secara langsung, serta bekerjasama dengan guru mermbantu memecahkan kesulitan anak belajar anak.
Sedangkan kegiatan yang tidak berkaitan langsung dengan pembelajaran mencakup kerterlibatan orangtua dalam pendanaan sekolah, keikutsertaan dalam organisasi orangtua siswa, dan keikutsertaan dalam rapat-rapat sekolah dan rapat-rapat organisasi orangtua siswa.
Perhatian orangtua terhadap pendidikan ditunjukkan dengan keterlibat langsung atau tidak langsung dengan pembelajaran anak di sekolah. Semakin besar perhatian orangtua terhadap pendidikan anaknya semakin mungkin bagi anaknya mencapai prestasi yang baik di sekolah. Dengan demikian diduga perhatian orangtua berhubungan positif dengan perstasi belajar siswa.
3.   Hubungan kedisiplinan guru dan perhatian orangtua dengan hasil belajar siswa
Sebagaimana diuraikan di atas, kemampuan guru mendisiplinkan kelas berdampak pada peningkatan prestasi belajar anak. Demikian juga perhatian orangtua terhadap pendidkan anak berdampak pada peningkatan perstasi belajar anak. Jika secara sendiri-sendiri, baik kedisiplinan guru maupun perhatian orangtua berdampak pada peningkatan prestasi belajar anak, tentu secara bersama-sama dampaknya lebih besar lagi.
Dengan demikian diduga secara bersama-sama kemampuan guru mendisiplinkan akan berhubungan positif dengan prestasi belajar anak.

C. Hipotesis Penelitian

Berdasarkan deskripsi teori, penelitian yang relevan, dan kerangka berpikir di atas maka hipotesis yang mau diuji dalam penelitian ini ialah:
     1.        Terdpaat hubungan positif antara kedisiplinan guru dengan prestasi belajar siswa
     2.        Terdapat hubungan positif antara perhatian orangtua dengan prestasi belajar siswa
     3.        Terdapat hubungan positif antara kedisiplinan guru dan perhatian orangtua dengan prestasi belajar siswa.

BAB III
METODOLOGI PENELITIAN

A. Tujuan Penelitian

Penelitian bertujuan untuk mengumpulkan dan menganalisis data dari lapangan guna memperoleh pemahaman tentang:
     1.        Hubungan kedisiplinan guru dengan prestasi belajar siswa.
     2.        Hubungan perhatian orangtua dengan prestasi belajar siswa.
     3.        Hubungan kedisiplinan guru dan perhatian orangtua dengan prestasi belajar siswa.

B. Tempat dan Waktu Penelitian

Penelitian ini dilaksanakan  Sekolah Menengah Atas Negeri 83 Jakarta. Penelitian dilaksanakan pada semester ganjil tahun ajaran 2011. Penelitian berlangsung selama 3 bulan, yaitu pada bulan Juli, Agustus, dan September,  sejak  persiapan, kalibrasi instrumen, pengurusan izin, penyebaran angket, enteri data, analisis data sampai penulisan laporan.

C. Metode Penelitian

Metode yang digunakan dalam penelitian adalah survei dengan teknik korelasional. Data primer penelitian diperoleh melalui angket, selanjutnya data yang diperoleh dianalisis untuk mengetahui korelasi antara variabel terikat dengan variabel bebas. Variabel terikat dalam penelitian ini adalah prestasi belajar siswa (Y), sedangkan variabel bebasnya kedisiplinan guru (X1) dan perhatian orangtua (X2). Konstelasi variabel bebas dengan variabel terikat dapat digambarkan sebagai berikut:

    

                                 
Keterangan:
Y         =    Prestasi belajar siswa
X1        =    Kedisiplinan guru
X2        =    Perhatian orangtua
ry1        =    Koefisien korelasi sederhana antara kedisiplinan guru dengan hasil belajar siswa
ry2        =    Koefisien korelasi sederhana antara perhatian orangtua dengan hasil belajar siswa
Ry.12    =    Koefisien korelasi ganda antara kedispilinan guru dan perhatian orangtua dengan hasil belajar siswa.

D. Populasi dan Teknik Pengambilan Sampel

Populasi penelitian ini adalah seluruh siswa Sekolah Mennegah Atas Negeri 83 Jakarta. Sedangkan populasi terjangkau adalah siswa Sekolah Menengah Atas  Negeri 83  pada tahun pelajaran 2011 di jalan Tipar Cakung, Sukapura, Cilincing, Jakarta Utara. Pengambilan sampel dilakukan secara acak proporsional seluruh siswa Ssekolah Menengah Atas Negeri 83 Jakarta Utara . Pemilihan sampel pada setiap subpopulasi dilakukan melalui pengundian berdasarkan daftar nama yang tersedia.
Perlu dinyatakan bahwa dalam proses tidak semua siswa yang tercabut dalam undian bersedia menjadi responden karena berbagai alasan, sehingga pada akhirnya jumlah responden persubpopulasi (yakni perkelas) tidak selalu sesuai dengan proporsi yang telah disiapkan, namun tetap diangap masih mewakili seluruh sekolah yang ada. Pada akhir proses pemilian sampel kami mendapatkan 125 siswa dengan jumlah yang bervariasi dari kelas-kelas  yang ada .
E.   Teknik Pengumpulan Data
Instrumen pengumpulan data penelitian disusun berdasarkan definisi konseptual, definisi operasional, dan kisi-kisi setiap variabel. Draft instrumen dikonsultasikan pada pembimbing untuk menjamin validitas isinya. Selanjutnya dilakukan kalibrasi instrumen dengan mengujicobakannya kepada sampel yang bukan sampel penelitian guna menguji validitas dan reliabilitasnya.
1.   Instrumen Tes Prestasi Belajar
a. Definisi Konspetual
Secara konseptual prestasi belajar merupakan tingkat keberhasilan yang dicapai siswa dalam proses belajar dalam jangka waktu tertentu yang berwujud perubahan-perubahan yang terukur dalam pengetahuan (ranah kognitif), sikap (ranah afektif), dan ketrampilan (ranah psikomotorik).
b. Definisi Operasional
Sedangkan secara operasional yang dimaksud dengan prestasi belajar dalam penelitian ialah skor yang diperoleh siswa dari general test yang diujikan pada mereka. General test memuat dimensi-dimensi pelajaran yang sesuai.
c. Kisi-kisi
Tabel 4. Kisi-kisi Instrumen Tes Prestasi Belajar
Dimensi
Indikator
Nomor Butir
Bahasa Indonesia








Tes dibuat dalam bentuk soal dengan jawaban pilihan ganda yang terdiri empat opsi jawaban dimana hanya satu jawaban yang benar. Jawaban yang benar diberi skor 1 sedangkan jawaban yang salah diberi skor 0.
a. Kalibrasi
Ujicoba instrumen dilakuan terhadap sampel 30 siswa Sekolah Menengah Atas Negeri 83 Jakarta Utara yang bukan sampel penelitian. Hasilnya dianalisis dengan korelasi poin biserial untuk menguji validitas butirnya, dan rumus KR 20 untuk menghitung reliabilitasnya. Pengujian validitas terhadap 39 butir instrumen prestasi belajar ternyata enam butir tidak valid karena r hitungnya lebih kecil dari r tabel 0,349, yaitu butir 9, 11, 19, 27, 30, 36. Setelah membuang keenam butir yang tidak valid, dilakukan pengujian validitas ulang terhadap 33 butir yang sisanya, dengan hasil semua butir tersebut valid. Perhitungan reliabilitas terhadap semua yang valid menghasilkan koefisien reliabilitas 0,907.
Berdasarkan hasil kalibrasi ini, maka instrumen tes prestasi belajar siswa diukur dengan 33 butir soal tanpa menyertakan butir 9, 11, 19, 27, 30, 36. Membuang keenam butir ini tidak mengurangi validitas konten, karena semua dimensi pengukuran tetap terwakili dengan 33 butir yang valid. Dengan skor butir 0 untuk jawaban yang salah dan 1 untuk jawaban yang benar, maka rentang skor teoretik prestasi belajar siswa berkisar antara 0 – 33, dimana 0 adalah kemungkinan skor terendah dan 33 kemungkinan skor tertinggi.
2.   Angket Kedisiplinan Guru
a. Definisi Konseptual
Secara konseptual yang dimaksud dengan kedisiplinan guru kemampuan guru melaksanakan prinsip-prinsip pengelolaan kelas yang didasarkan pada peningkatan lingkungan kelas positif, penetapan aturan-aturan kelas, dan penggunaan prosedur-prosedur yang efektif untuk mengatasi siswa yang bermasalah. Semakin dekat skor ke 0 berarti semakin rendah prestasi belajar siswa, semakin ke 33 berrarti semakin tinggi prestasi belajarnya.
b. Definisi Operasional
Secara operasional yang dimaksud dengan kedisiplinan guru dalam penelitian ini ialah skor yang diberikan siswa terhadap angket kedisiplinan guru yang mengukur lingkungan kelas positif, penetapan aturan-aturan kelas, dan penggunaan prosedur-prosedur yang efektif untuk mengatasi siswa yang bermasalah.
c. Kisi-kisi
Tabel 5. Kisi-kisi Instrumen Kedisiplinan Guru
Dimensi
Indikator
Butir
1.       Sikap dalam mengelola kelas
a)       Hubungan positif dengan siswa
1, 25*
b)       Pandangan positif terhadap siswa
2, 26*
c)       Pendekatan yang percaya diri dan optimistik dalam pengelolaan kelas
3, 27*
2.       Memaju-kan lingkungan kelas yang positif
a)       Mengutamakan pencegahan daripada pengendalian
4, 28*
b)       Memperkecil peluang kegaduhan dan kelambatan
5, 29*
c)       Komtimen yang kuat terhadap kebiasaan belajar teratur
6, 30*
d)       Mengubah prosedur kelas yang menyebabkan kegaduhan atau kegalauan
7, 31*
3.       Menetap-kan tata tertib kelas
a)       Membentuk kebiasaan pengelolaan sejak dini
8, 32*
b)       Mengupayakan partisipasi siswa dalam menegakkan tata tertib kelas
9, 33*
c)       Menjelaskan alasan setiap tata tertib
10, 34*
d)       Mempersedikit dan menyederhanakan tata tertib
11, 35*
e)       Konsisten menegakkan tata tertib kelas
12, 36*
f)        Memberi penguatan positif terhadap individu
13, 37*
g)       Memberi penguatan positif terhadap kelas
14, 38*
4.       Mengatasi siswa yang bermasalah
a)       Fokus pada perilaku menyimpang itu sendiri
15, 39*
b)       Menjelaskan sisi negatif perilaku menyimpang
16, 40*
c)       Mengabaikan perilaku mencari perhatian
17, 41*
d)       Rasional menghadapi perilaku menyimpang
18, 42*
e)       Tidak mengancam dengan hukuman
19, 43*
f)        Tidak melukai perasaan
20, 44*
g)       Mengadakan pertemuan atau konseling pribadi untuk penyimpangan yang gawat
21, 45*
h)       Menghindari prosedur-prosedur korektif yang menghukum
22, 46*
i)         Minta bantuan guru yang berpengelaman jika prosedur pengelolaan yang biasa tidak berhasil
23, 47*
j)         Bekerjasama dengan kepala sekolah, orangtua, dan guru BP
24, 48*
Jumlah butir
48
*Butir negatif


Instrumen dibuat dalam bentuk rating pendapat murid tentang seberapa sering indikator-indikator kedisiplinan tampak dalam perilaku guru mengelola kelas dengan lima pilihan jawaban: SL = Selalu, S = Sering, J = Jarang, JS = Jarang Sekali, TP = Tidak Pernah. Untuk pernyataan positif skornya ialah SL = 5, S = 4, J = 3, JS = 2, dan TP = 1. Sedangkan untuk pernyataan negatif skornya SL = 1, S = 2, J = 3, JS = 4, dan TP = 5.
d. Kalibrasi
Hasil ujicoba instrumen dianalisis dengan korelasi produk momen untuk menguji validitas butirnya, dan rumus Alpha Cronbach untuk menghitung reliabilitasnya. Pengujian validitas terhadap 48 butir angket, ternyata ditemukan lima butir tidak valid karena r hitungnya lebih kecil dari r tabel 0,349, yaitu butir 4, 7, 17, 28, 29. Setelah membuang kelima butir yang tidak valid, dilakukan pengujian validitas ulang terhadap sisa 43 butir yang valid, dengan hasil semuanya memang valid. Perhitungan reliabilitas terhadap butir valid menghasilkan koefisien reliabilitas 0,876.
Dengan demikian, angket kedisiplinan guru menggunakan 43 butir tanpa menyertakan butir 4, 7, 17, 28, 29. Dengan askor butir 1 – 5, maka rentang skor teoretik kedisiplinan guru berkisar antara 43 – 215 dimana 43 adalah kemungkinan skor terendah dan 215 adalah kemungkinan skor tertinggi. Semakin dekat skor ke 43 berarti semakin rendah kedisiplinan guru di mata siswa, dan semakin dekat skor ke 215 berrarti semakin tinggi kedisiplinan guru di mata siswa.
3.   Angket Perhatian Orangtua
a. Definisi Konseptual
Secara konseptual yang dimaksud dengan perhatian orangtua keterlibatan orangtua dengan sekolah anak, baik berkaitan langsung dengan pembelajaran anak dan maupun tidak berkaitan langsung dengan pembelajaran anak.
b. Definisi Operasional
Secara operasional yang dimaksud dengan perhatian orangtua ialah skor yang diberikan siswa terhadap angket yang beirisi penilaian terhadap kerterlibatan orangtua secara langsung dan tidak langsung terhadap pembelajaran anak. Kisi-kisi sebagai berikut:
c. Kisi-kisi
Tabel 6. Kisi-kisi Instrumen Perhatian Orangtua
Dimensi
Indikator
Butir
1.       Perhatian yang berkaitan langsung dengan pembelajaran anak
a)       Menyediakan alat belajar
1, 10, 19, 28*
b)       Membantu menyelesaikan pekerjaan rumah
2, 11, 20, 29*
c)       Membahas masalah belajar dengan anak
3, 12, 21, 30*
d)       Membahas masalah belajar anak dengan guru
4, 13, 22, 31*
e)       Menghadiri acara sekolah yang melibatkan anak
5, 14, 23, 32*
2.       Perhatian yang berkaitan secara tidak langsung dengan pembelajar-an anak
a)       Menciptakan suasana rumah kondusif bagi anak
6, 15, 24, 33*
b)       Mengontrol pergaulan anak
7, 16, 25, 34*
c)       Memelihara kontak dengan pihak sekolah
8, 17, 26, 35*
d)       Keterlibatan dalam organisasi orangtua siswa
9, 18, 27, 36*
Jumlah butir
36
* Butir negatif



Instrumen dibuat dalam bentuk rating pendapat tentang seberapa sering indikator-indikator perhatian orangtua tampak dalam perilaku orangtuanya sendiri dengan lima pilihan jawaban: SL = Selalu, S = Sering, J = Jarang, JS= Jarang Sekali, TP = Tidak Pernah. Untuk pernyataan positif skornya ialah SL = 5, S = 4, J = 3, JS = 2, dan TP = 1. Sedangkan untuk pernyataan negatif skornya SL = 1, S = 2, J = 3, JS = 4, dan TP = 5. Skor akhir adalah penjumlahan seluruh skor butir.
d. Kalibrasi
Hasil ujicoba instrumen dianalisis dengan korelasi produk momen untuk menguji validitas butirnya, dan rumus Alpha Cronbach untuk menghitung reliabilitasnya. Pengujian validitas terhadap 36 butir angket perhatian orangtua, ternyata 1 butir tidak valid, yaitu butir 7, karena r hitungnya lebih kecil dari r tabel 0,249. Setelah membuang butir yang tidak valid, dilakukan pengujian validitas ulang dengan hasil 35 butir sisanya valid semua. Perhitungan reliabilitas terhadap butir yang valid menghasilkan koefisien reliabilitas 0,817.
Dengan demikian perhatian orangtua diukur dengan angket berisi 35 butir tanpa menyertakan butir 7. Dengan skor butir 1 – 5, maka rentang skor teoretik perhatian orangtua berkisar antara 35 – 175 dimana 35 adalah kemungkinan skor terendah dan 175 kemungkinan skor tertinggi. Semakin dekat skor ke 35 berrarti semakin rendah perhatian orangtua dalam pandangan siswa, dan semakin dekat skor ke 175 berarti semakin tinggi perhatian orangbtua di mata siswa.

F.   Teknik Analisis Data

Data dianalisis dengan statistik deskriptif dan inferensial. Statistik deksriptif digunakan untuk mengetahui kecendrungan pemusatan data (mean, median, modus), kecendrungan penyebaran data (rentangan dan simpang baku), serta pembuatan tabel frekuensi dan histogram data.
Statistik inferensial digunakan untuk pengujian hipotesis penelitian, yakni menggunakan teknik korelasi produk momen, sedangkan pengujian signifikansi koefisien korelasi yang dihasilkannya menggunakan uji t untuk korelasi sederhana dan uji F untuk korelasi ganda.
Sebelum pengujian hipotesis dilakukan, terlebih dahulu dilakukan pengujian prasyarat statistik, yaitu pengujian normalitas sebaran data dan linearitas korelasi variabel bebas dengan variabel terikat. Pengujian normalitas menggunakan analisis statistik Kolmogorov-Smirnov sedangkan pengujian linearitas menggunakan analisis statistik regresi sederhana.

G. Hipotesis Statistik Penelitian

Sesuai dengan hipotesis penelitian yang diajukan, maka hipotesis statistik penelitian adalah sebagai berikut :
1.    H0 : ρy1 = 0                  H1 : ρy1 > 0
2.    H0 : ρy2 = 0                 H1 : ρy2 > 0
3.    H0 : ρy.12 =  0              H1 : ρy.12 > 0
Di mana,
ry1        =    Koefisien korelasi sederhana antara kedisiplinan guru dengan prestasi belajar siswa
ry2        =    Koefisien korelasi sederhana antara perhatian orangtua dengan prestasi belajar siswa
ρy.12     =    Koefisien korelasi ganda antara kedisiplinan guru dan perhatian orangtua dengan prestasi belajar siswa.
DAFTAR KEPUSTAKAAN
 

Arikunto, Suharsimi. 2003. Dasar-dasar Evaluasi Pendidikan. Edisi Revisi, cet 4. Jakarta: Bumi Aksara.
Azwar, Saifuddin. 2003. Tes Prestasi: Fungsi dan Pengembangan Pengukuran Prestasi Belajar. Cet 6. Yogyakarta: Pustaka Pelajar.
Cole, PG & Chan, LKS. 2007. Teaching Priciples and Practices. New York: Prentice Hall.
Davies, Don. 2006. “The Tent School”.  Principal (Reston, Va), Vol 76, November, h 13-14.
Departemen Pendidikan dan Kebudayaan, 2004. Kurikulum Pendidikan Dasar, Garis-garis Besar Program Pengajaran Sekolah Mennegah Atas. Jakarta : Proyek Pengembangan Mutu SD, TK dan SLB.
Djamarah, Saiful B, & Zein, A. 2007. Strategi Belajar Mengajar. Jakarta: Rineka Cipta, h. 121-122.
Doyle, W. 2006. “Classroom Organization and Management”. Dalam Mewajibkan Wittrock (Ed), Handbook on Research and Teaching. 3rd Ed. New York: McMillan.
Epstein, JL & Dauber, SJ. 2008. Teacher Practices of Parents Involvement in Inner City Eelemntary and Middle Schools. Paper presented at the American Sociological Association annual meeting.
Epstein, Jl. 2008. “Effects on Student Achievementg of Teachers’ Practices for Parent Involvement”. Dalam Dalam S Silvern (Ed), Literacy Through Family, Community, and School Interaction. Greenwich, CT: JAI Press.
Fullan, M. 2006. The Meaning of Educational Change. London: Cassell.
Gafur, Abdul.2003. Disain Instruksional. Jakarta: BPT IKIP.
Gage, NL & Berliner, DC. 2004. Educational Psychology. Boston: Houghton Mifflin Company.
Georgiou, SN. 1998. “Opening School Doors: Teacher-Parent-Student Relations in Cyprus”. Childhood Education 76(6), International Focus Issue, h 362-366.
Good, T & Brophi, J. 2004. Looking in Classrooms. 6th Ed. New York: Harper Collins.
Greenleaf, RK. 2000. “Home Connection Program”, High School Magazine, 7, January, h 18-21. Diakses dari UHAMKA Learning Resources Center, Agustus 2004.
Hamalik, Oemar. 2002. Pengajaran Unit Studi Kurikulum dan Metodologi. Bandung: Alumni.
Hudoyo, Herman .1979. Pengembangan Kurikulum Bahasa Indonesia dan Pelaksanaan di Depan Kelas. Surabaya : Usaha Nasional.
Johnson, FL, Brookover, WB & Farrel, WC. 1989. School Personel and Stdents Views’ of Parents Involvement and Their Impact on Students’ Academic Sense of Futility,  Paper presented at the American Sociological Association annual meeting.
Karso, 1993. Dasar-dasar Pendidikan MIPA. Jakarta : Universitas Terbuka.
Karso, 1993. Proyek Peningkatan Mutu guru SD serta D-II dan Pendidikan Kependudukan. Jakarta : Depdikbud
Kindsvatter, R & Levine, MA. 2000. “The Myth of Discipline”. Phi Delta Kappa, 61(10), 690-693.
Kindsvatter, R, Willen, W & Ishler, M. 2006. Dynamic of Effective Teaching. 3rd Ed. New York: Longman Publisher USA.
Kounin, J. 1970. Discipline and Group Management. New York: Holt, Rineharr & Winston.
Martinez-Pons, Manuel. 2006. “Test of a Model of Parental Inducement of Academic Self-Regulation”. The Journal of Experiment Education, 64, Spring, 213-227.
Mortimore, P, et al. 2008. School Matters: The Junior Years. Sommerset, UK: Open Book.
Nasution, S. 2002. Didaktik Dasar-Dasar Mengajar. Bandung: Jenmars, h. 25.
Newson, J, Newson, E, dan Barners, P. 2007. Perspectives on School at Seven Years Old. London: Allen & Unwin.
Robinson, Philip. 2006. Beberapa Perspektif Sosiologi Pendidikan. Penerjemah Hasan Basari. Jakarta: Rajawali.
Rosen, BC. 2009. Race, Ethnicity, and  the Achievement Syndrome, American Sociological Review, 24: 47-60.
Rosen, BC. 2001. Family Structure and Achievement Motivation. American Sociological Review, 26, 574-585.
Suriasumantri, Jujun S. 1998. Filsafat Ilmu Sebuah pengantar Populer. Jakarta : Pustaka Sinar Harapan.
Suryabrata, Sumadi.2003. Proses Belajar Mengajar. Yogyakarta, PT. Onffice.
Syah, Muhibbin. 2007. Psikologi Pedidikan dengan Pendekatan Baru. Bandung. Remaja Rosda Karya.
Tantowi,  R. 2007. Bimbingan dan Konseling. Jakarta: Pamatar.
Tucker, C, Hrris, YR, Brady, BA. 2006. The Association between Parent Bahaviors with the Academic Achievement of African-American Children and European American Children”, Child-Study-Journal, 26(4), h 253-277.
Vannoy, Steven W. 2000. 10 Anuegrah Terindah untuk Ananda: Cara Membesarkan Anak dengan Hati. Penerjemah Alwiyah Abdurrahman. Bandung: Kaifa.
Wolf, RM. 2004. The Measurement of Environments. Dalam Anastasi (Ed), Testing problems in Perspective: Twenty Fifth Anniversary Volume of Topical Readings from the Invitational Conference on Testing Problems. Washington DC: American Council of Education, h 491-503.
Xu Di, 2006. “Teachiong Real World Students: A Study of the Relationship between Students’ Academic Achievement and Daily-Life Interfering and Remedial Factors”. College Student Journal, 30, June, h 238-253.



PENGANTAR

Angket ini disebarkan untuk memperoleh data penelitian tentang “PeranPerhatian Orangtua Dan Kedisiplinan Guru Dengan Prestasi Belajar Bahasa Indonesia Siswa Sekolah Menengah Atas Negeri 83 Jakarta” yang digakan untuk penyusunan tesis Magister Pendidikan Administrasi Pendidikan YAPPAN di  Jakarta.
Anda para siswa  kelas X di sekolah ini terpilih sebagai sampel penelitian. Karena itu kami mohon partisipasi Anda untuk mengisi angket ini dengan sebebenarnya sehingga dihasilkan data yang valid. Hanya data berupa skor terhadap jawaban Anda yang akan diolah dalam penelitian, sedangkan informasi mengenai diri Anda maupun sekolah Anda dijamin kerahasiaannya dan tidak akan diungkapkan dalam laporan penelitian.
Atas partisipasi Anda mengisi angket ini kami ucapkan terima kasih yang sedalam-dalamnya. Demikian juga atas izin dari Bapak/Ibu Kepala Sekolah dan Bapak/Ibu Guru Kelas kepada kami untuk mengambil sampel siswa dari sekolah ini, kami ucapkan terima kasih banyak.
Jakarta, 2011
PENULIS,

INSTRUMEN ANGKET KEDISIPLINAN GURU
Petunjuk Pengisian
1.    Pernyataan berikut menggambarkan perilaku guru kelasmu dalam mengelola kedisiplinan belajar di kelasmu. Nyatakanlah seberapa sering perilaku tersebut dilakukan gurumu, dengan menyilangi SL untuk Selalu, S Sering, J untuk Jarang, JS -= Jarang Sekali, TP untuk Tidak Pernah.
2.    Pengisian angket tidak akan mempengaruhi penilaan terhadap dirimu dan gurumu, dan apapun jawabanmu tidak akan diketahui oleh orang lain. Oleh karena itu isilah sesuai dengan penialaianmu sendiri, tanpa terpengaruh oleh penilaian orang lain.
3.    Terima kasih telah mengisi angket.
NO
PERNYATAAN
SL
S
J
JS
TP
1.     
Gurumu ramah terhadap dirimu





2.     
Gurumu menilaimu sebagai anak yang baik





3.     
Gurumu percaya kamu bisa mengatur diri sendiri





4.     
Gurumu mulai mengajar setelah murid-murid tenang





5.     
Gurumu mengabsen sebelum mulai mengajar





6.     
Gurumu mengajar tepat waktu





7.     
Gurumu mengubah tata tertib kelas yang memberatkan siswa





8.     
Gurumu menegur kalau kamu melakukan kesalahan





9.     
Kamu melaporkan temanmu yang melanggar tata tertib kelas





10.  
Gurumu menjelaskan tujuan dari setiap tata tertib belajar di kelas





11.  
Tata tertib kelas tidak membebani dirimu





12.  
Guru hadir mengajar tepat waktu





13.  
Gurumu memujimu jika kamu tertib





14.  
Gurumu memuji kelas yang tertib





15.  
Tegoran gurumu mudah dimengerti





16.  
Gurumu menjelaskan akibat buruk menyontek saat ulangan





17.  
Gurumu membiarkan celetukan murid saat belajar





18.  
Gurumu memberikan bimbingan kepala anak yang bermasalah





19.  
Gurumu tidak menakut-nakuti murid dengan hukuman





20.  
Nasehat gurumu menyenangkan hati





21.  
Gurumu memanggil murid yang bermasalah





22.  
Gurumu memberi peringatan kepada murid yang melanggar tata tertib kelas





23.  
Guru lain membantu gurumu mengatasi murid yang tak bisa diatasi





24.  
Gurumu minta bantuan kepala sekolah mengatasi murid yang tak bisa diatasinya





25.  
Guru tidak senang pada dirimu





26.  
Gurumu mencapmu sebagai anak nakal





27.  
Perintah gurumu tidak kamu laksanakan





28.  
Gurumu tetap mengajar walaupun siswa ribut





29.  
Gurumu tidak menegur jika kamu bolos





30.  
Gurumu keluar masuk kelas sewaktu mengajar





31.  
Guru melaksanakan aturan walaupun memberatkan siswa





32.  
Gurumu membiarkanmu melakukan kesalahan





33.  
Kamu membiarkan temanmu melanggar tata tertib kelas





34.  
Gurumu tidak menjelaskan tujuan tata tertib kelas





35.  
Kamu tidak senang dengan tata tertib kelas





36.  
Guru mengajar tidak sesuai jadwal





37.  
Gurumu membiarkan anak yang melanggar tata tertib kelas





38.  
Gurumu membiarkan kelas yang gaduh saat belajar





39.  
Tegoran gurumu melantur kemana-mana





40.  
Gurumu tidak menjelaskan akibat dari membolos





41.  
Gurumu marah jika dicandai murid saat belajar





42.  
Gurumu membiarkan murid yang bermasalah





43.  
Gurumu menakut-nakuti murid dengan hukuman





44.  
Nasehat gurumu menyakitkan hati





45.  
Gurumu membiarkan murid berbuat kesalahan





46.  
Gurumu langsung menghukum murid tanpa melalui peringatan terlebih dahulu





47.  
Gurumu tidak bekerjasama dengan guru lain mengatasi murid yang tak bisa diatasi





48.  
Gurumu membiarkan murid yang tidak bisa diatasinya sendiri






INSTRUMEN ANGKET PERHATIAN ORANGTUA
Petunjuk Pengisian
1.    Pernyataan berikut menggambarkan perilaku orangtuamu dalam memperhatikan pendidikanmu. Nyatakanlah, dengan menyilangi SL untuk Selalu, S Sering, J untuk Jarang, JS = Jarang Sekali, TP untuk Tidak Pernah.
2.    Pengisian angket tidak akan mempengaruhi penilaan terhadap diri dan orangtuamu, dan apapun jawabanmu tidak akan diketahui oleh orang lain. Oleh karena itu isilah sesuai dengan penilaianmu sendiri, tanpa terpengaruh oleh penilaian orang lain.
3.    Terima kasih kamu telah mengisi angket.
NO
PERNYATAAN
SL
S
J
JS
TP
1.     
Orangtuamu berupaya menyediakan segala peralatan belajarmu





2.     
Orangtuamu membantumu menyelesaikan pekerjaan rumahmu





3.     
Orangtuamu membahas masalah-masalahmu dalam belajar





4.     
Orangtuamu membahas masalah belajarmu dengan gurumu





5.     
Orangtuamu menghadiri acara-acaramu di sekolah





6.     
Orangtuamu berupaya menjadikan rumahmu nyaman bagimu untuk belajar





7.     
Orangtuamu mengetahui teman-temanmu





8.     
Orangtuamu berusaha membina hubungan dengan sekolah





9.     
Orangtuamu ikut dalam organisasi orangtua murid





10.  
Orangtuamu berusaha melengkapi buku pelajaranmu





11.  
Orangtuamu menjelaskan pekerjaan rumah yang tidak kamu pahami





12.  
Orangtuamu menanyakan masalah-masalah yang kamu hadapi dalam belajar





13.  
Orangtuamu bertanya pada gurumu tentang masalah yang kamu hadapi dalam belajar di sekolah





14.  
Orangtuamu turut hadir jika kamu tampil dalam acara-acara di sekolah





15.  
Suasana di rumah membuatmu asyik belajar





16.  
Kamu dilarang orangtuamu bergaul dengan sembarang anak





17.  
Orangtuamu hadir jika diundang ke sekolah





18.  
Orangtuamu ikut dalam rapat orangtua murid





19.  
Alat-alat tulismu tersedia lengkap





20.  
Orangtuamu memeriksa pekerjaan rumahmu





21.  
Orangtuamu ingin tahu apa yang kamu lakukan disekolah





22.  
Orangtuamu menghubungi guru jika ada masalah menyangkut dirimu di sekolah





23.  
Orangtuamu suka menyaksikan kamu tampil dalam acara-acara sekolah





24.  
Orangtuamu tidak mau menyuruhmu pekerjaan lain jika kamu sedang belajar dirumah





25.  
Orangtuamu ingin tahu dengan siapa kamu bermain di luar rumah





26.  
Orangtuamu mudah dihubungi sekolah jika ada keperluan





27.  
Orangtuamu aktif dalam kegiatan-kegiatan orangtua murid





28.  
Orangtuamu acuh tak acuh dengan keperluan alat belajarmu





29.  
Orangtuamu tidak mau terganggu dengan urusan pekerjaan rumahmu





30.  
Orangtuamu tidak mau tahu dengan urusan belajarmu





31.  
Orangtuamu enggan membahas masalah belajarmu dengan guru





32.  
Orangtuamu tidak sempat menghadiri acara-acaramu di sekolah





33.  
Kamu terlalu sibuk membantu orangtuamu sehingga tidak sempat belajar di rumah





34.  
Orangtuamu tidak peduli dengan siapa kamu berteman





35.  
Orangtuamu keberatan dimintai bantuan sumbangan pendidikan oleh pihak sekolah





36.  
Orangtuamu enggan menghadiri rapat-rapat orangtua murid







INSTRUMEN PRESTASI BELAJAR BAHASA INDONESIA

PETUNJUK :
Lingkari jawaban yang paling kamu anggap benar.

  1. Setelah kalian mendengarkan laporan pengamatan atau perjalanan, banyak hal kalian ketahui, Kini pengetahuan kalian bertambah lagi.
Perbaikan penggunaan tanda baca pada kalimat di atas adalah....
    1. tanda baca koma (,) ditulis sesudah kata setelah
    2. antara kata perjalanan dengan kata banyak dipisahkan tanda baca titik (.)
    3. antara kata ketahui dan kata Kini seharusnya ada tanda baca titik (.)
    4. semua tanda baca pada paragraf tersebut diganti titik (.)

  1. Strategi yang ditempuh untuk mengatasi kemiskinan ialah mengintegrasi 2 program. Kedua program tersebut yaitu : Program Pengembangan Kecamatan (PPK) dan Program Penanggulangan Kemiskinan di Perkotaan (P2KP) menjadi Program Nasional Pemberdayaan Masyarakat.
Gagasan utama paragraf tersebut adalah....
    1. strategi mengatasi kemiskinan
    2. program pemerintah mengatasi kemiskinan
    3. program Menkokesra
    4. Program PPK dan P2KP

  1. Makna kata program pada paragraf tersebut adalah....
    1. urutan perintah yang diberikan pada komputer untuk membuat fungsi atau tugas tertentu
    2. rancangan mengenai asas serta usaha
    3. serangkaian instruksi yang mengatur langkah-langkah yang harus diambil oleh suatu sistem
    4. rencana untuk melakukan suatu kegiatan yang telah ditempuh

  1. Strategi apa yang dijalankan pemerintah untuk mengatasi kemiskinan?
    1. mengintegrasikan dua program
    2. memasyarakatkan kesejahteraan
    3. mengumumkan perekonomian
    4. merencanakan program

  1.  Alternatif Tarif Busway
Tarif
Subsidi
Rp 3.500,00
Rp 4.000,00
Rp 4.500,00
Rp 5.000,00
Rp 5.500,00
Rp 258 milyar
Rp 246 milyar
Rp 234 milyar
Rp 222 milyar
Rp 210 milyar
Berapakah alternatif tarif Busway, jika pemerintah menghendaki subsidi paling kecil?
a. Rp 3.500,00                        b. Rp 4.000,00                       
c.Rp 4.500,00                         d.Rp 5.500,00
  1. Pernyataan yang sesuai dengan isi tabel adalah….
    1. setiap alternatif tarif busway naik Rp 500,00 maka subsidi yang dikeluarkan pemerintah naik Rp 12 miliar
    2. setiap alternatif tarif busway naik Rp 500,00 maka subsidi juga naik menjadi Rp 222 miliar
    3. Tarif alternatif busway yang paling tepat adalah Rp 5.000,00 karena subsidi pemerintah hanya Rp 222 miliar
    4. Alternatif busway tertinggi adalah Rp 5.500,00 apabila subsidi yang diinginkan juga tinggi

  1. Sebuah situs internet bernama karangsemproperty.com memasang iklan penjualan dua pulau di Nusa Tenggara Barat. Dua pulau itu adalah Pulau Panjang seluas 33 hektar dan pulau meriam besar seluas 5 hektar.
Perbaikan penulisan huruf dalam paragraf tersebut adalah....
    1. k dan c pada karangsemproperty.com harusnya berhuruf kapital
    2. p pada pulau di Nusa Tenggara Barat harusnya huruf kapital
    3. p, m, dan b pada kata kata pulau meriam besar seharusnya huruf kapital
    4. h pada kata hektar harusnya huruf kapital
  1. ....
Teruslah o. Teratai bahagia
Berseri di kebun Indonesia
Biar sedikit penjaga taman
......
Isi puisi tersebut adalah....
a.    mengharapkan bunga teratai agar tidak layu
b.    agar bangsa Indonesia menjaga taman
c.    kebun yang tumbuh subur bagaikan taman yang indah
d.    mengharapkan sesuatu untuk dipertahankan

  1. Tirani adalah pikiran
Yang dipindahkan ke dalam slogan
Yang menguntai pikiran
Kata yang berima dari bait puisi tersebut adalah....
a. tirani – pikiran                      b. tirani – slogan                      c. pikiran – slogan       d. yang – pikiran

  1. Eto`o sebagai striker Barcelona dianggap sebagai salah satu penyerang yang paling berbahaya saat ini. Ungkapan Fabregas itu dilandasi rasa kagumnya atas Eto`o dalam mengolah si kulit bundar itu di lapangan. Kritikan terhadap isi paragraf tersebut adalah....
    1. Ia memang penyerang paling berbahaya saat ini
    2. Sebaiknya tidak berlebihan jika menilai seseorang
    3. Kekaguman seseorang yang berlebihan terhadap idolanya
    4. Striker paling berbahaya dalam mengolah si kulit bundar



  1. (1) Cuaca kota Bandung sangat dingin. (2) Kali ini dinginnya melebihi hari-hari sebelumnya. (3) Dinginnya suhu udara di Bandung mencapai 24 C. (4) Data tingkat suhu udara ini terdapat di papan informasi pengukur suhu di jalan-jalan besar di kota Bandung.
Kalimat yang berupa pendapat pada paragraf diatas terdapat pada....
a. (1) dan (2)               b. (1) dan (3)               c. (2) dan (3)   d. (2) dan (4)

  1. Pada umumnya, sakit tenggorokan disebabkan oleh virus. Biasanya, terkait dengan tanda-tanda penyakit saluran nafas lainnya. Seperti, hidung tersumbat atau batuk. Kebanyakan sakit tenggorokan dapat sembuh dengan sendirinya. Namun, untuk membantu agar lebih nyaman ketika sakit, dapat dilakukan dengan minum air hangat yang diberi perasan air jeruk lemon dan madu.
Simpulan paragraf tersebut yang tepat adalah....
    1. Penyakit tenggorokan disebabkan oleh virus
    2. Tanda-tanda penyakit tenggorokan adalah hidung tersumbat
    3. Usaha meringankan rasa sakit ketika menderita sakit tenggorokan
    4. Sakit tenggorokan dapat dikurangi dengan minum air perasan jeruk lemon

  1. Kutipan I
Pukul lima, selagi masih buta, kentongan membangunkan para kuli dari tidurnya yang berat terlena. Mereka bangun sambil menggeliat, dan menggaruk diri. Nyamuk dan kutu busuk sepanjang malam menggigit dan menyengat mereka.

Kutipan II
”Apa salahku, apa salahku, mengapa kau katakan, aku tidak suka makan gulai seenak itu? Supaya aku tidak makan dan kamu yang akan menghabiskannya,” kataku kesal.

Perbedaan karakteristik kedua kutipan novel tersebut adalah....


Kutipan I
Kutipan II
a.
Tokoh yang terlihat banyak
Tokoh yang terlihat dua
b.
Sudut pandang diaan
Sudut pandang akuan
c.
Latar tidak jelas
Latar jelas
d.
Amanat jelas
Amanat tidak jelas

  1. ....
Apa yang harus kulakukan? Pikirnya. Tepat ketika itu ia ingat, seseorang pernah berkata, kalau menemukan uang, kita harus menyerahkannya pada polisi. Tapi di kereta tidak ada polisi. Jadi, bagaimana? Tiba-tiba pintu ruang kondektur terbuka. Kondektur masuk ke gerbong tempat Totto-Chan berdiri. Totto-Chan tidak tahu apa yang mendorongnya bertindak ; ia menginjak uang logam lima sen itu dengan kaki kanannya. Karena mengenali Totto-Chan, kondektur tersenyum kepadanya. Tapi Totto-Chan tak dapat membalas senyum pria itu dengan sepenuh hati. Ia merasa bersalah gara-gara uang lima sen yang ditutupinya.

Sikap totto-Chan yang patut ditiru dalam kehidupan sehari-hari adalah....
a.    merasa bersalah telah melakukan hal yang tidak baik
b.    tidak mau menyerahkan uang yang ditemukan
c.    berusaha menyembunyikan jika menemukan sesuatu
d.    menganggap barang yang ditemukan sebagai milik pribadi

  1. Bukti  watak kondektur ramah pada kutipan cerita di atas adalah....
a. marah          b. menyapa     c. tertawa        d. tersenyum

  1. Konflik yang dihadapi tokoh pada kutipan cerita terjemahan tersebut adalah....
a. membalas senyuman                                 b. perbedaan keinginan         
c. menemukan uang                                       d. naik kereta api

  1. Latar tempat dalam kutipan cerita terjemahan dia ats adalah....
a. di stasiun kereta api                                    b. di sekolah
c. di dalam kereta api                                     d. di rumah

        Rumah terlihat sepi ketika Rama pulang dari sekolah. Kakak terbaring di kamarnya.
        Rama      : Assalamualaikum. Rama pulang. Kakak di mana ?
        Kakak      : (suara pelan) di kamar, Ram. Huk...huk....(batuk)
        Rama      : Kakak kenapa? (nada sedikit khawatir) Rama ambilkan air ya.
Kakak      : Kakak sedang flu dan demam. Tolong ambilkan obat di kotak obat, Ya.
        Rama       : Baik, kak. (bergegas mengambil obat)

  1. Suasana yang tergambar dalam kutipan drama di atas adalah....
a. tegang         b. Sedih                       c. Gembira      d. santai

  1. Latar kutipan drama tersebut terjadi di....
a. kamar          b. Dapur                      c. Halaman     d. rumah

  1. Nilai agama yang dapat diteladani dari kutipan drama di atas adalah....
    1. mengambilkan air bagi orang lain
    2. mengucapkan salam sebelum masuk
    3. menyapa pada saat pulang
    4. harus khawatir pada kakak kandung




Tidak ada komentar: